Minggu, 19 April 2026

Musik Hip Hop Bernuansa Maluku, Grizzly; Berkarya Tanpa Lupa Jati Diri

Sejumlah karya pemusik bergenre hip hop ini menjadi gambaran prinsip yang dia pegang itu

Penulis: Risman Serang | Editor: Fandi Wattimena
Sumber; Grizzly Cluivert Nahusuly
Grizzly menyapa Mama Papalele 

Laporan Wartawan TribunAmbon.Com, Kevin Wildo Tupamahu

AMBON, TRIBUNAMBON – Berkarya tanpa lupa jati diri seperti prinsip bagi Grizzly Cluivert Nahusuly.

Sejumlah karya pemusik bergenre hip hop ini menjadi gambaran prinsip yang dia pegang itu.

Tergabung dalam Ghetto Side Entertainment, Grizzly telah menulis beberapa lagu hip hop, dengan menyisipkan nuansa Maluku, seperti lagu Mama Ambon dan Bololeng.

Ide menulis lagu tentang Mama Ambon pertama kali muncul, ketika ia tidak sengaja bertemu beberapa kali dengan Mama Ambon yang berjualan di Terminal Mardika, saat berangkat ke kampus.

“Saya tertarik menulis lagu Mama Ambon, karena sekarang sudah tidak ada regenerasinya, jadi saya ingin membuat catatan digital, sehingga sepuluh tahun kedepan ketika mereka sudah tidak ada, kita masih bisa melihat mereka melalui catatan digital itu” pungkas Grizzly saat ditemui TribunAmbon.com, Kamis (29/7/2021) siang.

Dalam liriknya, rutinitas keseharian yang menjadi kebiasaan masyarakat selalu memberi warna musiknya.

Grizzly Cluivert Nahusuly
Grizzly Cluivert Nahusuly (Sumber; Grizzly Cluivert Nahusuly)

Baca juga: Viral Video Nona Ambon Nyanyi Lagu Jang Ganggu, Ditonton Hingga 11 Juta Pengguna TikTok

Sebut saja kebiasaan 'minom teh sore' (minum teh hangat dan makan roti) yang dia sematkan dalam lagu mama ambon.

Saat ditanyai mengenai project terdekat, pria yang tertarik dengan genre musik hip hop sejak masih duduk di tingkat menengah pertama itu mengaku tengah menyelesaikan lagu garapan terbaru, yang juga kental dengan budaya Maluku.

Meski begitu, Grizzly belum mau berbagi cerita akan projek anyarnya itu.

“Project musik selanjutnya, saya ingin mengangkat tentang permainan tradisional waktu masih kecil, karena sekarang permainan tradisional sudah banyak ditinggalkan” ungkapnya.

Baca juga: Tabrak Orang, Remaja di Ambon Divonis 1,6 Tahun Penjara

Baca juga: Belum Buka Lapak, Pedagang Pasar Apung; Uang Keluar 15 Juta, Pemasukan Nihil

Ia berharap melalui karya yang dibuat, dapat menunjukkan kepada generasi muda, inilah budaya orang Maluku yang harus tetap dijaga sampai kapanpun.

Lupa akan jati diri merupakan kekhawatiran terbesarnya yang kemudian menurutnya sudah banyak terjadi ditengah perkembangan.

Sosial media membuat sekat sosial dan berbagai kencenderungan negatif lainnya.

Padahal, media sosial dapat menjadi sarana berkarya dan menuangkan ide kreatif.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved