Kelangkaan Minyak Tanah
Minyak Tanah Susah di Ambon, Macam Deng Cari Jodoh Saja
Unit Manager Communication Relation and CSR Pertamina Regional Papua Maluku, Edi Mangun, mengaku selalu heran atas fenomana kelangkaa
Penulis: Rahmat Tutupoho | Editor: Nur Thamsil Thahir
Di masa pandemi COVID-19 ini, kekurangan stok minyak tanah sejak libur Natal 2020.
"Distribusinya terbatas, hanya tiga kali distribusi sejak libur Natal sampai sekarang, ini yang ketiga," kata Lia (26), salah satu agen minyak tanah di Tanah Rata.
Dia menyebutkan, agennya dijatah 8 drum. Kapasitas tiap drum 250 liter.
Artinya dia dapat jatah sekitar 2000 liter. Dalam kondisi normal dalam sepekan.
Namun sejak kelangkaan, minyak langsung habis dalam sehari.
Pola stoking dan distribusi ini juga terjadi di agen lain.

Tidak hanya warga sekitar, ada juga pembeli dari Batu Gajah, Tantui bahkan titipan gen dari seram.
Belasan warga dari luar Pulau Ambon, antre berebut jatah minyak tanah, di kawasan pemukiman padat Tanah Rata, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Sabtu (9/1/2021) siang.
Warga itu dari Pulau Seram, membaur dengan seratusan warga kota Ambon lain.
Ada dari Galunggung, Batu Merah, Mardika, Kebun Cengkeh, Karang Panjang, hingga Tantui.
Mereka rela antre sejak pagi buta.
"Saya ini titip gen (jerigen) 40 liter dari keluarga dari Luhu, (Seram Barat)," kata seorang warga Batu Merah kepada Tribun.
Mereka sudah antre sekitar 3 jam perjalanan kapal laut dari kota Ambon.
Antrean terjadi sejak pagi. Hingga pukul 14.00 WIB, antrean masih terlihat di sekitar toko sembako, sekaligus agen bahan bakar minyak.
Sejak akhir tahun 2020 lalu, Kelangkaan minyak tanah memuncak di Maluku.
Sastri, pemilik kedai di Tanah Rata RT.001 / RW.008, sebelah timur Santika Hotel di Kawasan Galunggung, Batu Merah.