Kisah Korban Gempa Maluku, 17 Bayi Lahir di Pengungsian, Ada yang Diberi Nama Gempa

Kisah pengungsi gempa Maluku, 17 bayi lahir dipengungsian, 2 di antaranya kembar, ada yang diberi nama Gempa dan dinamai mirip Wagub Maluku.

Editor: Fitriana Andriyani
Freepik
Kisah pengungsi gempa Maluku, 17 bayi lahir dipengungsian, 2 di antaranya kembar, ada yang diberi nama Gempa dan dinamai mirip Wagub Maluku 

TRIBUNAMBON.COM - Sebanyak 16 ibu hamil telah melahirkan bayinya di lokasi pengungsian di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah sejak gelombang pengungsian terjadi usai gempa bermagnitudo 6,8 mengguncang wilayah tersebut, pada Kamis (12/10/2019) pekan lalu.

Dari 16 ibu hamil yang melahirkan, ada salah seorang ibu hamil yang melahirkan bayi kembar, sehingga total bayi yang lahir di lokasi pengungsian desa tersebut berjumlah 17 bayi.

Selain melahirkan di rumah sakit darurat yang dibangun di lokasi pengungsian itu, sejumlah ibu hamil juga melahirkan di tenda- tenda darurat tempat mereka mengungsi.

Gempa Susulan Ambon Terus Terjadi, Sekolah Diliburkan 9 Hari Ke Depan & 2 Ribu Rumah Rusak

“Sampai saat ini 17 bayi yang lahir di tenda dan dua bayi meninggal dunia,” kata Kepala Bidang Pelayanan dan Perawatan di Rumah Sakit Darurat dr Ishak Umarela kepada wartawan di rumah sakit tersebut, Sabtu (12/10/2019).

Dia mengatakan, bayi yang lahir dengan selamat itu diberikan nama unik oleh orangtua mereka.

Nama-nama yang diberikan pun identik dengan gempa bumi seperti Gempi, Gempa, hingga Gempita.

“Namanya unik-unik, ada Gempa, Gempi, Gempur, Gempita, Mujahada, Mujahid, dan Abas Orno,” katanya sambil tersenyum.

Menurut dia, sampai saat ini bayi-bayi tersebut masih bertahan bersama orang tuanya di tenda-tenda darurat di lokasi pengungsian itu.

”Masih ada di sini, mungkin karena masih gempa susulan. Mereka ada yang masih bertahan,” ujarnya.

Viral Video Vlogger Cilik Dandan saat Gempa Ambon Guncang Rumahnya, Ini Reaksi Si Gadis

Ida Lestaluhu, salah satu ibu hamil yang melahirkan bayinya di lokasi pengungsian tersebut, mengaku masih takut kembali ke rumah dan masih memilih bertahan di lokasi pengungsian lantaran gempa susulan terus terjadi.

“Gempa susulan masih terjadi ya, saya takut, masih trauma, jadi bertahan di sini saja dulu, nanti situasinya sudah pulih baru pulang,” katanya.

Bayi Diberi Nama oleh Wagub Maluku

Seorang ibu hamil bernama Hartini Ohorella, warga Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, melahirkan bayi laki-laki di tenda darurat di lokasi pengungsian di desa tersebut, Selasa (1/10/2019).

Hartini yang merupakan pengungsi korban gempa ini melahirkan bayinya itu dalam suasana penuh kekhawatiran dan diliputi kecemasan.

Apalagi, sempat beredar isu tsunami yang berhembus kencang di wilayah tersebut.

Dibantu oleh para dokter dan tenaga medis yang bertugas di RSUD Tulehu, proses persalinan Hartini berjalan lancar di dalam tenda pengungsian.

Tertimpa Reruntuhan, Pelajar Tewas Akibat Gempa Ambon

Tepat pada pukul 10.30 WIT, Hartini melahirkan bayinya dengan selamat.

Rasa bahagia pun tak dapat disembunyikan oleh Hartini dan suaminya Rahman Pelu.

Sebab, pada saat yang bersamaan, Wakil Gubernur Maluku Barnabas Orno sedang mengunjungi lokasi pengungsian.

Barnabas bahkan ikut menjenguk ibu dan bayi yang baru lahir tersebut.

Barnabas Orno bahkan memberikan nama kepada bayi yang lahir di tenda darurat tersebut dengan nama Muhamad Abas Orno Pelu.

Ayah dan Ibu bayi itupun mengaku senang dan bangga, karena nama anaknya diberikan langsung oleh Wakil Gubernur Maluku

“Terima kasih Bapak sudah datang dan memberikan nama kepada Beta (saya) pung anak,” ujar Rahman dengan wajah yang semringah.

Gempa Susulan Bermagnitudo 5.2 SR, Warga Diimbau Tak Percayai Hoaks Tsunami

Usai memberikan nama kepada bayi Abas, Barnabas Orno mengatakan kepada Rahman dan Hartini agar menjaga putranya itu dengan baik.

Barnabas yakin, kelak bayi mereka itu akan menjadi orang yang hebat.

“Nanti anak ini akan menjadi orang hebat,” kata Barnabas Orno.

Barnabas juga meminta kepada Rahman dan Hartini agar dapat berkunjung sambil membawa bayi mereka itu ke kediamannya nanti saat Abas berusia 40 hari.

“Kalau sudah berusia 40 hari dibawa ke rumah ya, karena di sana ada dia punya kakak 8 orang,” kata Barnabas.

Polri Kunjungi dan Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Ambon, Jokowi Dikabarkan Segera Berkunjung

Barnabas pun menyerahkan bantuan berupa uang tunai yang diperuntukan bagi kebutuhan bayi Abas.  

Di pengungsian, Barnabas juga menemui petugas kesehatan yang ditugaskan pada posko yang berada di Unidar.

Dia berharap agar petugas kesehatan dan dokter melayani warga di lokasi pengungsian dengan sepenuh hati dan ikhlas.

“Saya harap bapak dan ibu petugas yang melayani kesehatan di sini bisa melayani dengan sepenuh hati dan ikhlas,” kata Barnabas.

Barnabas juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Tulehu yang telah membantu para pengungsi yang menginap di rumah mereka, khususnya warga di dataran tinggi.

(Kompas.com Kontributor Ambon, Rahmat Rahman Patty)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "17 Bayi Lahir di Lokasi Pengungsian Desa Tulehu, Dua Meninggal Dunia" dan "Cerita Bahagia Pengungsi Gempa Maluku, Melahirkan di Tenda Darurat dan Diberi Nama oleh Wagub".

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved