Breaking News:

Wagub Maluku Minta BKKBN Hentikan Kampanye KB, Ini Alasannya

Wagub Maluku Barnabas Orno minta BKKBN Provinsi Maluku lebih fokus bimbing ibu hamil daripada kampanye KB.

Editor: Fitriana Andriyani
kompas.com Rahmat Rahman Patty
Wakil Gubernur Maluku, Barnabas Orno menyampaikan sambutan pada pembukaan Rapat Telaah Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) Provinsi Maluku di Santika Hotel, Ambon, Selasa (3/9/2019). 

Sebab, Bali memiliki kearifan lokal dengan empat anak yakni Wayan, Nengah, Nyoman, Ketut.

"Kalau hanya dua anak, maka dua nama terakhir yakni Nyoman dan Ketut akan hilang dari Bali. Kalau Nyoman dan Ketut hilang maka generasi Bali akan habis, kearifan lokal Bali akan habis, populasi orang Bali akan cepat habis, dan seterusnya," katanya.

Maka itu ia berpendapat, populasi orang Bali terus menurun. Bila populasi Bali menurun, maka cepat atau lambat eksistensi Bali dengan kearifan lokalnya akan hilang.

 

Untuk itu di Bali bukan hanya cukup dua anak, tetapi harus empat anak untuk bisa diberi nama Wayan, Nengah, Nyoman, dan Ketut.

"Selain itu, populasi masyarakat Bali dari tahun ke tahun terus menurun karena kampanye dua anak cukup sudah dilakukan sejak lama dan tertanam kuat di benak masyarakat Bali," ujarnya.

Dampak dari program KB dua anak ini pun menyebabkan tren pertumbuhan penduduk di Bali dalam lima tahun ini stagnan dan hampir konstan.

Artinya penduduk yang lahir dibandingkan dengan penduduk yang hidupnya berakhir hampir berimbang.

Wiranto Tegaskan Bendera Bintang Kejora Ilegal, Bagaimana Kasus Pengibaran Sebelumnya?

Agen Seksi Ucap Ini, Ambisi Mauro Icardi Resmi Berseragam PSG

Berdasarkan data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bali pada Maret 2019, laju pertumbuhan penduduk Bali menurun dari 2,31 persen pada tahun 2010 menjadi 2,14 persen pada tahun 2017.

Selain itu terjadi pula penurunan angka kelahiran total dari 2,3 pada tahun 2012 menjadi 2,1 per wanita usia subur pada tahun 2018.

Gubernur Bali, Wayan Koster. TRIBUN BALI/WEMA SATYADINATA
Gubernur Bali, Wayan Koster.  (Tribun Bali/Wema Satyadinata)

“Penurunan ini selain sebagai dampak penggunaan kontrasepsi yang telah mencapai 54,8% bagi pasangan usia subur, juga meningkatnya median usia kawin pertama perempuan dari 21,9 tahun menjadi 22,1 tahun,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, Catur Sentana, pada rapat koordinasi daerah program kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga (KKBPK) Provinsi Bali tahun 2019 di Denpasar, Maret lalu.

Koster pun meminta kepada BKKBN agar laju pertumbuhan penduduk Bali tidak perlu diturunkan lagi.

Ia juga menyebut kontrasepsi melalui vasektomi merupakan cara yang sadis dan meminta BKKBN tidak memakai cara itu lagi.

Warisan Leluhur

Kepala Dinas Disdukcapil-KB Bali I Gusti Agung Ketut Kartika Jaya Seputra juga menyebut kondisi pertumbuhan penduduk Bali asli dalam beberapa tahun terakhir makin menurun.

"Kita ketahui bersama saat ini populasi 'Nyoman' dan 'Ketut' sudah mulai langka, karena itu sesuai arahan Bapak Gubernur kami susun program untuk kembali kepada konsep dan pedoman keluarga warisan leluhur kita di Bali yakni anjuran untuk empat anak," ucap Kartika.

Angka bonus demografi ini terkait dengan pola pikir sebagian masyarakat di mana memiliki dua orang anak dianggap sudah cukup yang ditunjang pula oleh kampanye masif selama bertahun-tahun oleh pemerintah.

‘Akibatnya, trennya cukup mengkhawatirkan,” ujarnya.

Dirinya juga meyakinkan bahwa program ‘KB Krama Bali' ini akan disosialisasikan secara lebih intens dan efektif, menggandeng pula berbagai pihak agar bisa lebih menjangkau ke tatanan rumah tangga terutama pada pasangan muda yang sedang dalam masa subur.

"Tentunya program ini tak hanya menganjurkan untuk sekadar punya lebih dari dua anak, namun juga ada pertimbangan dari berbagai aspek keluarga berencana, seperti pengaturan kelahiran, jarak kelahiran, usia ideal, perlindungan, bantuan dan lainnya. intinya tetap berpegang pada koridor KB," katanya.

Akademisi FK Universitas Udayana, Prof. LK Suryani, juga mendukung Intruksi Gubernur tersebut demi eksistensi penduduk Bali di masa depan.

"Saya merasa Pak Koster hebat, berani menyatakan keluarga berencana itu mengurangi jumlah penduduk Bali," kata Prof Suryani kepada Tribun Bali, Kamis (27/6).

Prof Suryani pun merasa gembira bahwa apa yang dilakukan dengan mencoba merangsek masyarakat Bali agar tidak berpikir dua anak akan terjadi genocide, sudah menunjukkan hasil yang baik.

Padahal secara demografi jumlah penduduk Bali terus menurun. Hal ini sebagai dampak program KB dua anak.

“Setiap orang diharuskan mempunyai dua anak dan setelah memiliki dua anak banyak yang memilih menggugurkan kandungan,” katanya.

(Kompas.com/Rahmat Rahman Patty, Tribun-bali.com/sui/wem)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Wagub Minta BKKBN Stop Kampanye KB di Maluku, Apa Alasannya dan tribun-bali.com dengan judul Populasi Orang Bali Menurun, Koster Setop Kampanye KB 2 Anak Begini Alasannya.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved