Buru Hari Ini
Penuh Kebersamaan, Keluarga Latbual–Batbual Hidupkan Kembali Tradisi Leluhur Bakar Batu
Keluarga besar Latbual-Batbual kembali menghidupkan tradisi bakar batu, sebuah warisan yang sudah lama tak mereka rayakan bersama.
Penulis: Ummi Dalila Temarwut | Editor: Ode Alfin Risanto
Laporan Jurnalis TribunAmbon.com Ummi Dalila Temarwut
NAMLEA,TRIBUNAMBON.COM - Di Desa Persiapan Modan Mohe,Kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru, aroma keladi dan kasbi yang berpadu dengan panasnya batu membara mengisi udara sejak pagi.
Suasana hangat itu bukan sekadar tanda adanya acara makan besar, melainkan momen istimewa ketika keluarga besar Latbual-Batbual kembali menghidupkan tradisi bakar batu, sebuah warisan yang sudah lama tak mereka rayakan bersama.
Baca juga: Polisi Gagalkan Penyelundupan 20 Koli Kayu Santigi di Pelabuhan Kaiwatu - MBD
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Dukung Penuh Program 10.000 Hunian Pekerja
Pada 19 November 2025, sejak pukul 09.00 WIT, halaman tempat kegiatan berlangsung dipenuhi canda dan kerja sama.
Orang tua, anak muda, hingga anak-anak turun tangan mempersiapkan bahan makanan keladi, ampas kasbi, ayam panggang, dan ikan lele yang nantinya akan disajikan di atas daun pisang, seperti cara yang diajarkan leluhur mereka dahulu.
Lebih dari sekadar memasak, bakar batu hari itu menjadi ruang bagi keluarga untuk kembali merajut hubungan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan zaman modern.
Di sela suara batu panas yang diletakkan di atas tumpukan makanan, terdengar kisah-kisah lama dan nasihat dari orang tua yang tak ingin tradisi ini hilang.
Bagi generasi muda, momen ini menjadi pembuktian bahwa identitas budaya dapat terus hidup selama ada yang mau menjaganya.
Terson Latbual, salah satu anak muda yang terlibat, mengungkapkan rasa bangganya.
“Ini bukan hanya makan bersama. Ini cara kami menjaga hubungan ade kaka dan mempertahankan masakan tradisional agar tidak hilang,” tuturnya.
Saat makanan akhirnya tersaji di meja panjang beralas daun pisang, semua lelah terbayar.
Setiap suapan membawa rasa syukur, syukur atas persatuan, atas keluarga, dan atas budaya yang terus bertahan dari generasi ke generasi.
Hingga sore hari menjelang, ketika kegiatan berakhir pada pukul 16.00 WIT, sisa kehangatan masih terasa bukan hanya dari batu yang mulai dingin, tetapi dari ikatan yang kembali diperteguh melalui tradisi sederhana namun penuh makna.
Di Modan Mohe, bakar batu hari itu bukan sekadar acara. Ia adalah ingatan yang dihidupkan kembali, dan janji bahwa tradisi keluarga Latbual-Batbual akan terus diteruskan.
Sebagai diketahui Tradisi Bakar Batu adalah sebuah ritual adat yang dilakukan oleh berbagai suku di Maluku dan wilayah sekitarnya sebagai simbol kebersamaan, syukur, perdamaian, dan penyambutan tamu.
Dalam tradisi ini, makanan terutama daging, umbi-umbian, dan sayuran dimasak menggunakan batu-batu yang dipanaskan hingga membara, lalu ditutup dengan daun dan tanah agar matang secara merata.
Maknanya bukan hanya tentang makan bersama, tetapi juga simbol persatuan, solidaritas, dan menghormati warisan leluhur.(*)
| Pemuda Buru Dukung Kehadiran Pos Pengamanan TNI di Tambang Gunung Botak |
|
|---|
| Perkuat Tata Kelola Bersih, Bupati Buru Hadiri Rakor Pencegahan Korupsi di Gedung KPK |
|
|---|
| Kapolda Maluku Bawa Pesan Damai Saat Kunjungan Kerja di Kabupaten Buru |
|
|---|
| Dukung Pemenuhan Gizi Masyarakat, Kapolda Maluku Tinjau Pembangunan SPPG Polri di Namlea |
|
|---|
| Kunjungi Buru, Kapolda Maluku Tekankan Tambang Gunung Botak Harus Aman dan Berpihak ke Rakyat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/tadisi-bakar-batu-e.jpg)