Selasa, 5 Mei 2026

Buru Hari Ini

Halaman Rumah Cagar Budaya di Buru Terbengkalai, Patung Palungku Rusak

Sebagian halaman rumah cagar budaya di Kabupaten Buru dipenuhi rumput liar yang tumbuh, membuat suasana terlihat diabaikan. 

Tayang:
Penulis: Ummi Dalila Temarwut | Editor: Mesya Marasabessy
Ummi Temarwut
TAMAN CAGAR BUDAYA BURU - Tampak halaman cagar budaya di kompleks dermaga feri tepatnya di depan pelabuhan penyebrangan feri kayeli Kabupaten Buru, Rabu (3/9/2025). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Ummi Dalila Temarwut 

NAMLEA, TRIBUNAMBON.COM - Kondisi halaman rumah cagar budaya di kompleks dermaga feri, tepatnya di depan pelabuhan penyeberangan feri Kayeli, Kabupaten Buru, tampak memprihatinkan. 

Pantauan TribunAmbon.com pukul 13.00 WIT Rabu (3/9/2025), halaman bangunan bersejarah yang seharusnya dirawat sebagai aset kebudayaan itu terlihat tidak terurus.

Sebagian halaman rumah cagar budaya dipenuhi rumput liar yang tumbuh, membuat suasana terlihat diabaikan. 

Baca juga: Temui Pendemo, Bupati dan Wakil Bupati Maluku Tengah Melantai Depan Kantor

Sementara itu, lantai tehel di sekitar area patung Palungku banyak yang pecah dan rusak, sehingga merusak keindahan lokasi yang seharusnya menjadi daya tarik wisata sejarah.

Lutfi Oihu, salah satu warga Kayeli yang ditemui di lokasi, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi tersebut. 

Menurutnya, keadaan rumah cagar budaya dan patung Palungku yang rusak memberi kesan tak sedap di pandang bagi masyarakat maupun wisatawan yang datang.

“Pemandangan itu tidak bagus. Patung Palungku itu melambangkan penolakan terhadap RMS pada masa itu. Kalau dibiarkan begini tidak menarik," ungkapnya.

Baca juga: 32 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Buru, Didominasi Pernikahan dan Persetubuhan Anak

Patung Palungku sendiri memiliki makna penting dalam sejarah Pulau Buru.

Monumen itu didirikan sebagai simbol penolakan masyarakat terhadap gerakan separatis Republik Maluku Selatan (RMS) yang pernah terjadi di masa lalu. 

Di bagian patung, terdapat tulisan yang dikaitkan dengan ucapan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno “Indonesia Tanpa Buru, Bukanlah Indonesia".

Tulisan tersebut menegaskan betapa pentingnya Pulau Buru sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Karena itu, kerusakan yang terjadi pada patung ini dinilai sebagai bentuk kelalaian dalam menjaga warisan sejarah bangsa.

Selain sebagai saksi sejarah, rumah cagar budaya dan patung Palungku juga masuk dalam daftar destinasi wisata di Kabupaten Buru. 

Namun, kondisi yang tidak terawat membuat daya tarik wisata sejarah ini kian meredup.

Lutfi berharap adanya perhatian  dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk perawatan rutin maupun pengelolaan yang lebih profesional. 

Dengan begitu, rumah cagar budaya dan patung Palungku bukan hanya sekadar simbol sejarah, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi melalui sektor pariwisata. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved