Maluku Terkini
Makan Patita Rekatkan Perdamaian di Negeri Liang, Ini Kata Kapolda Maluku
Kegiatan Makan Patita dan Rekonsiliasi Sosial digelar di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (29/1/2026).
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Makan Patita dan Rekonsiliasi Sosial digelar di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (29/1/2026).
- Acara ini menjadi simbol kuat bersatunya kembali masyarakat dalam semangat orang basudara.
- Turut hadir Kapolda Maluku, Gubernur Maluku, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Kapoksahli Kodam XV/Pattimura mewakili Pangdam, Ketua MUI Maluku, jajaran pejabat utama Polda Maluku, Kapolresta Ambon, Bupati Maluku Tengah, serta para Raja se-Jazirah Salahutu dan Leihitu.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Upaya merawat perdamaian berbasis kearifan lokal kembali ditunjukkan masyarakat Maluku melalui tradisi adat yang sarat makna.
Kegiatan Makan Patita dan Rekonsiliasi Sosial digelar di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Kamis (29/1/2026).
Acara ini menjadi simbol kuat bersatunya kembali masyarakat dalam semangat orang basudara.
Kapolda Maluku, Irjen Pol Prof. Dr. Dadang Hartanto, hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama Gubernur Maluku, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Kapoksahli Kodam XV/Pattimura mewakili Pangdam, Ketua MUI Maluku, jajaran pejabat utama Polda Maluku, Kapolresta Ambon, Bupati Maluku Tengah, serta para Raja se-Jazirah Salahutu dan Leihitu.
Baca juga: Pegadaian Ambon Luncurkan Aplikasi Tring Lewat Festival Investasi Emas
Baca juga: Polsek Tanimbar Utara Buka Lahan Pertanian Perkuat Ketahanan Pangan
Ritual Adat Ikat Janji Damai
Prosesi rekonsiliasi diawali ritual adat penyembelihan seekor kambing yang menjadi simbol pengikat janji damai secara sakral.
Tradisi ini menegaskan bahwa perdamaian yang dibangun bukan sekadar kesepakatan formal, tetapi memiliki konsekuensi adat dan spiritual yang dihormati masyarakat setempat.
Kapolda Maluku menilai momen tersebut sebagai peristiwa monumental yang patut menjadi contoh nasional.
“Kegiatan di Negeri Liang ini sangat monumental. Ini adalah virus kebaikan yang patut ditiru daerah lain. Maluku memiliki kekayaan alam dan potensi wisata luar biasa, tetapi semua itu hanya bisa berkembang jika fondasinya adalah keamanan, kedamaian, dan keharmonisan masyarakat,” tegas Dadang Hartanto.
Menurutnya, tradisi Makan Patita bukan sekadar seremoni budaya, melainkan instrumen sosial yang efektif untuk mencegah konflik horizontal dan memperkuat rekonsiliasi berbasis kesadaran kolektif.
“Penyelesaian masalah secara musyawarah dan beradab seperti ini harus menjadi teladan, terutama bagi generasi muda. Perdamaian bukan berarti tanpa masalah, tetapi adanya kemauan untuk menyelesaikan masalah secara bersama-sama,” ujarnya.
Pesan Gubernur: Konflik Tak Pernah Melahirkan Pemenang
Gubernur Maluku dalam sambutannya menekankan bahwa pertemuan tersebut membuktikan kasih sayang dan persaudaraan jauh lebih kuat daripada amarah.
Ia mengingatkan bahwa konflik tidak pernah melahirkan pemenang, melainkan hanya meninggalkan luka panjang bagi generasi penerus.
| Mat Marasabessy, Diperiksa Kasus Korupsi Jalan Gajah Mada-Taar Anggaran Pinjaman SMI |
|
|---|
| Wakapolda Maluku Tekankan Anggota Polri Jangan Cederai Nama Baik Institusi |
|
|---|
| 395 Orang Maluku hingga Mancanegara Menapaki Manusela per 2011 Hingga 2026 |
|
|---|
| Data BPS: Barang Angkutan dan Bongkar di Maluku Meningkat Februari 2026 |
|
|---|
| Dua Kali Mangkir, Hartini Diminta Tepati Janji di Pemeriksaan 6 April atau Hadapi Upaya Paksa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/makan-patita-liang.jpg)