Sabtu, 25 April 2026

Semua Tentang Sagu

Sagu Dimata Ketua Komisi I DPRD SBT: Penopang Hidup Sekaligus Pengikat Emosional 

Bagi anak-anak daerah yang harus merantau untuk menempuh pendidikan, sagu seperti penopang hidup sekaligus pengikat emosional

Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Fandi Wattimena
Istimewa
TENTANG SAGU - Ketua Komisi I, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Abdul Azis Yanlua. 

Laporan Wartawan Tribunambon.com, Haliyudin Ulima 

BULA, TRIBUNAMBON.COM – Sagu bukan sekadar makanan tradisional bagi masyarakat Maluku.

Bagi anak-anak daerah yang harus merantau untuk menempuh pendidikan, sagu seperti penopang hidup sekaligus pengikat emosional dengan kampung halaman.

Hal itu dirasakan langsung Ketua Komisi I DPRD Kabupaten SBT, Abdul Azis Yanlua, sewaktu berkuliah di UIN AM. Sangadji. 

Menurutnya, arti penting sagu baru benar-benar dirasakan ketika seseorang meninggalkan kampung dan hidup mandiri di tanah rantau.

“Kalau masih tinggal dengan orang tua di kampung, sagu itu belum terasa penting. Tapi begitu merantau sekolah di luar, baru kita tahu betul arti sagu,” kenangnya.

Ia mengenang masa ketika komunikasi belum semudah sekarang. 

Saat kapal laut menjadi satu-satunya jalur penghubung antara kampung di SBT dengan Kota Ambon. 

Baca juga: Abdul Azis Yanlua Usul Sagu Tumbuh dan Bagea Dipatenkan sebagai Produk Khas Daerah SBT

Baca juga: Tak Sekadar Pangan Lokal, Sagu di Seram Bagian Timur Jadi Sumber Zakat

Setiap kedatangan kapal, selalu membawa harapan bagi perantau.

kiriman sagu bukan sekadar bahan pangan, melainkan jaminan bertahan hidup.

“Dulu belum ada HP. Begitu kapal masuk Ambon, kiriman yang paling utama itu sagu. Sampai kuliah, kiriman pertama itu pasti sagu,” ujarnya saat diwawancarai Tribunambon.com di rumahnya.

“Sampai lulus kuliah, kontribusi paling besar dari sisi konsumsi itu sagu,” lanjutnya.

Kenangan tentang sagu, menurutnya sudah melekat sejak ia masih kecil di kampung. 

Sejak kecil, ia telah akrab dengan proses pengolahan sagu yang dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat.

“Waktu umur sekitar lima sampai sembilan tahun, bapak pernah bikin mesin ketinting lalu diubah jadi mesin parut sagu,” katanya.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved