Pemprov Maluku
Berdekatan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, Gubernur: Ini Modal Kebersamaan
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa mengatakan, ini merupakan momen langka dan spesial yang harus dimaknai sebagai modal kebersamaan.
Penulis: Novanda Halirat | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriyah bakal berlangsung dengan waktu yang berdekatan.
- Untuk itu, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa mengatakan, ini merupakan momen langka dan spesial yang harus dimaknai sebagai modal kebersamaan.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriyah bakal berlangsung dengan waktu yang berdekatan.
Untuk itu, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa mengatakan, ini merupakan momen langka dan spesial yang harus dimaknai sebagai modal kebersamaan.
"Hari Raya Nyepi umat Hindu tahun baru Saka 1948, hari tahun ini menjadi spesial karena perayaan hari Nyepi dan Idul Fitri itu kan berdekatan dan kita bisa saksikan secara langsung," ujarnya kepada awak media.
Orang nomor satu itu mengatakan perayaaan Nyepi ini juga sebagai modal bagi umat dan masyarakat di Maluku.
Dengan tujuan utama yaitu untuk mengendalikan diri dan kebersamaan menjaga hubungan antar Tuhan dan manusia.
"Kami sebagai kepala daerah Gubernur Maluku, melihat ini sebagai modal dan kekuatan kebersamaan kita sebagai umat beragama di Maluku," katanya menambahkan.
Baca juga: Wali Kota Imbau Warga Jaga Kedamaian Jelang Tiga HBKN di Kota Ambon
Baca juga: Kecam Beroperasinya Tambang Sinabar Luhu, Ketua DPRD SBB: Merkuri Sudah Dilarang di Seluruh Dunia
Gubernur berharap perayaan hari Raya Nyepi ini dapat berlangsung dengan aman, damai dan penuh sukacita.
Sementara itu Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Ambon, Doktor Ida Bagus G.Dwibawa mengatakan pelaksanaan festival ini sebagai bentuk pengendalian diri bagi seluruh umat.
Selain itu, untuk merekatkan perasan sejenak sebagai bentuk introspeksi diri masing-masing umat dan masyarakat di Kota Ambon.
Dijelaskannya ogoh-ogoh melambangkan kejahatan, ketamakan, keserakahan, sehingga umat harus mengintrospeksi diri dan menahan diri sendiri.
"Nyepi adalah semua tentang pengendalian diri, sehingga semua harus baik dan terkontrol bukan hanya umat tetapi untuk seluruh umat manusia di dunia,"katanya.
Dirinya mengatakan perayaaan festival ini sudah dijadwalkan menjadi agenda rutin tahunan di Kota Ambon.
Pawai ogoh-ogoh dimulai dari Gong Perdamaian Dunia Ambon menuju Kantor Polda Lama, Batu Meja, berlanjut Urimessing, Trikora, Masjid Raya Al-Fatah, Ay Patty dan kembali ke Gong Perdamaian.
Kegiatan ini berlangsung meriah dan khidmat disaksikan ratusan masyarakat di pusat Kota Ambon. (*)
| 268 Warga Terdampak Proyek Masela Didata, Pemprov Maluku Kejar Penyelesaian Tahap Awal |
|
|---|
| Maluku Ajukan Hilirisasi Ubi Kayu di Buru Selatan, Bidik Produksi Etanol dan Beras Singkong |
|
|---|
| Transfer Dana Pusat Menurun, Vanath Sebut Kemiskinan Maluku Dipicu Struktur Ekonomi yang Rentan |
|
|---|
| Gubernur Maluku Usul Daerah Kepulauan Diberi Kewenangan Lebih Besar Kelola ASN Sesuai Kondisi |
|
|---|
| Pemprov Maluku Komitmen Tindak Lanjuti Rekomendasi BPK Usai Raih Opini WTP atas LKPD 2025 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Ogoh-baru-nyepi.jpg)