Senin, 27 April 2026

Ambon Hari Ini

Peringati Hari Perempuan Internasional, Aksi Kamisan Ambon Soroti Ketidakadilan terhadap Perempuan

Komunitas Aksi Kamisan Ambon menggelar diskusi publik memperingati International Women’s Day di Kedai Aliyee, Desa Poka, Ambon.

Penulis: Novanda Halirat | Editor: Ode Alfin Risanto
TribunAmbon.com/Novanda Halirat
HARI PEREMPUAN SEDUNIA- Potret perempuan-perempuan dari berbagai komunitas dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia, berlangsung di Kedai Aliye, Pemda 1, Kawasan Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, Maluku, Minggu (8/3/2026) 
Ringkasan Berita:
  • Komunitas Aksi Kamisan Ambon menggelar diskusi publik memperingati International Women’s Day di Kedai Aliyee, Desa Poka, Ambon.
  • Diskusi bertema “Dari Suara yang Rentan: Tanah & Ruang yang Belum Aman” menyoroti ketimpangan gender, kekerasan terhadap perempuan, dan terbatasnya ruang aman bagi kelompok rentan.
  • Kegiatan juga dirangkaikan dengan mimbar bebas, buka puasa bersama, musik, dan pasar gratis, serta melibatkan berbagai organisasi mahasiswa dan komunitas di Ambon.

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Novanda Halirat 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM-  Dalam rangka memperingati International Women’s Day yang jatuh pada 8 Maret, komunitas Aksi Kamisan Ambon menggelar diskusi publik sederhana di Kedai Aliyee, kawasan Pemda 1, Desa Poka, Ambon, Minggu (8/3/2025).

Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Apriliska Titahena dari perempuan adat, jurnalis Khairiah Fitri, mahasiswi Yolis Atikah, serta Diah Avita dari Mprog Media.

Mengusung tema “Dari Suara yang Rentan: Tanah & Ruang yang Belum Aman”, diskusi mengangkat berbagai realitas sosial yang masih menyisakan ketidakadilan, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan.

Baca juga: Polisi Masih Buru Pelaku Penyebar Video Asusila GEGP, Dua Bukti Dikirim ke Puslabfor Makassar

Baca juga: GAMKI Maluku Minta Aktor Intelektual Pembakaran Unpatti Diungkap, Desak Rektor Beri Sanksi DO

Dalam forum itu, para peserta menyoroti bahwa kekerasan struktural tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dari sistem sosial yang sering menempatkan kelompok tertentu, terutama perempuan—dalam posisi rentan.

Salah satu narasumber, Yolis Atikah, menyampaikan bahwa momentum Hari Perempuan Internasional tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang refleksi atas berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan di berbagai sektor kehidupan.

“Masih ada kesenjangan pembiayaan bagi usaha perempuan, rendahnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan, serta pentingnya percepatan akses terhadap ekonomi digital,” ujarnya.

Menurutnya, hingga kini perempuan masih menghadapi berbagai persoalan serius, mulai dari ketimpangan gender, kekerasan, hilangnya ruang aman, hingga berbagai bentuk ketidakadilan struktural.

Karena itu, ia berharap kesadaran kolektif untuk menjaga ruang aman serta memperjuangkan keadilan bagi perempuan dan kelompok rentan terus tumbuh, terutama di kalangan generasi muda.

“Ayo kita bergerak bersama,” ajaknya.

Selain diskusi publik, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan mimbar bebas, buka puasa bersama, penampilan musik, serta pasar gratis yang menyediakan pakaian layak pakai bagi masyarakat yang membutuhkan.

Peringatan ini turut melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas, di antaranya Gempar Unpatti, FPPI Pimkot Ambon, HMI Komisariat Hukum, Kohati FISIP, Maluku Peduli, BAMM, Senat Mahasiswa Fakultas Hukum UKIM, Kora Maluku, Bumi Manusia Institut, Pasar Gratis Ambon, Kopri FKIP, dan Fis Duo. (*)
 
 

Sumber: Tribun Ambon
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved