Rabu, 3 Juni 2026

Ambon Hari Ini

Top 1 Asia dan Top 5 Global, PHD Crew Ambon Terkendala Biaya ke Amerika

Namun hingga saat ini keberangkatan ke Amerika masih menjadi tanda tanya besar karena membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Tayang:
Istimewa
PHD CREW - PHD Crew berhasil menembus posisi Top 5 Global dan Top 1 Asia dalam ajang World of Dance (WOD) 2026. 

Setelah dipimpin Marco sebagai ketua pertama, tongkat estafet kepemimpinan kemudian diserahkan kepadanya hingga saat ini. Sementara Marco kini berperan sebagai pembina.

Selama 13 tahun perjalanan, PHD Crew telah melakukan empat kali rekrutmen dan kini memiliki 31 anggota aktif yang berasal dari berbagai wilayah di Kota Ambon.

Di balik konsistensi tersebut, berbagai tantangan terus menghampiri. Pergantian anggota menjadi salah satu masalah yang kerap mereka hadapi.

"Kami sering mengalami persoalan internal seperti anggota yang keluar masuk. Tapi kami terus berusaha bertahan dan berkembang," katanya.

Bukan hanya itu, keterbatasan finansial juga menjadi cerita yang tak terpisahkan dari perjalanan mereka.

Untuk membiayai kebutuhan latihan hingga mengikuti kompetisi, para anggota harus mencari dana secara mandiri. 

Mereka menggelar bazar, menjual makanan, hingga tampil menari di berbagai tempat untuk mendapatkan sumbangan.

"Kami pernah jual bazar ayam dan berbagai makanan. Kami juga tampil dance untuk mencari sumbangan. Istilahnya kami mengamen," ungkap Brian.

Bahkan, kata dia, pernah ada momen ketika mereka hanya menerima bayaran Rp300 ribu setelah tampil menari seharian penuh.

"Nilainya memang kecil, tapi itu tidak pernah menurunkan semangat kami untuk terus maju," ujarnya.

Semangat pantang menyerah itu juga terlihat dalam proses persiapan menuju World of Dance 2026.

Alih-alih menggunakan kostum mahal, para anggota justru membuat sendiri kostum yang mereka kenakan saat tampil di kompetisi internasional tersebut.

Mereka memesan bahan pakaian, lalu memodifikasinya secara manual agar sesuai dengan konsep pertunjukan yang diusung.

"Kostum itu kami buat sendiri. Baju yang sudah jadi kami gunting lalu dijahit ulang sesuai desain yang kami inginkan," kata Brian.

Dua anggota tim, Georgia Esperanza Claudya dan Henny Nova Yuliana Reimialy, bahkan harus menjahit secara manual selama tiga hari berturut-turut.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved