Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MASOHI,TRIBUNAMBON.COM - Tingginya angka inflasi Maluku Tengah per rilis Maret 2025, rupanya Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Tengah masih sementara mendata harga komoditas pasar.
Sehingga pemotretan perkembangan inflasi di Maluku Tengah belum bisa diketahui.
Namun, dari pengawasan pendataan lapangan yang dilakukan, BPS menemukan harga sejumlah komoditas pasar cukup menonjol.
Demikian penjelasan yang disampaikan Kepala BPS Maluku Tengah, Alisye Kakerissa, di Masohi, Rabu (23/4/2025).
"Kalau melihat laporan dari teman-teman yang mengawal pendataan di lapangan ada beberapa komoditas yang yang harganya menonjol dibanding dengan tahun kemarin maupun bulan kemarin," ujar Kakerissa.
Disampaikan, bulan lalu harga komoditas pasar cukup tinggi. Jika dipotret perbandingan secara bulan, maka inflasi tergolong rendah, namun karena dipotret dalam perbandingan dengan tahun 2024, maka inflasi ini tergolong sangat tinggi.
"Sebenarnya (penyebab) perlakuan berbeda dalam subsidi dan lain lain. Kalau tahun kemarin subsidi gencar-gencarnya di lakukan Februari. Tapi tahun ini kelihatannya agak terlambat, padahal bulan Maret tahun lalu juga dalam momen bulan puasa," ungkapnya.
Baca juga: 62 Hari Pasca Dilantik, Hendrik Lewerissa Sampaikan Peluang, Tantangan dan Harapan
Baca juga: 152 Jemaah Calon Haji Maluku Tengah Siap Berangakat Tahun Ini
Dijelaskan, dengan angka inflasi yang cukup tinggi tentu harus meninjau Komoditas-komoditas penyumbang inflasi di Maluku Tengah kurang lebih ada 10 Komoditas penyumbang utama inflasi.
Antara lain, tarif listrik, ikan cakalang, ikan tongkol, cabai rawit, ikan selar, bahan bakar rumah tangga, pisang, ketimun, terong, daun singkong, ikan tuna, labu Siam, ikan asap, ikan layang, beras, ketela rambat, gelas minum, daging ayam ras, kacang panjang, dan jeruk.
"Dimana harga komoditas ini bergeser sedikit saja maka inflasi akan naik," imbuh dia. (*)