Pemilu 2024

Singgung Kemenangan, Jokowi Dinilai Arogan dan Lupa 2 Sosok Ini dalam Perjalanan Karir Politiknya

Meski ucapannya berukjung pada narasi dukungannya kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, menurut Direktur Eksekutif Institute for Democra

Editor: Adjeng Hatalea
Tangkapan layar
Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya 129 orang dalam Tragedi Kanjuruhan, Minggu (2/9/2022). 

TRIBUNAMBON.COM - Jokowi menyampaikan kemenangannya menjadi Presiden RI dalam pidatonya saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Perindo, Senin (7/11/2022).

"Tadi Pak Hary (Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesudibjo) menyampaikan, saya ini dua kali Wali Kota di Solo menang. Kemudian, ditarik ke Jakarta, gubernur sekali menang. Kemudian, dua kali di pemilu presiden juga menang. Mohon maaf, Pak Prabowo," tuturnya.

Meski ucapannya berukjung pada narasi dukungannya kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, menurut Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic), Ahmad Khoirul UmamJokowi justru tengah menunjukan sikap yang arogan

Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menilai, Presiden Joko Widodo tak etis menyampaikan kemenangannya di depan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Umam mengatakan, meski hal itu berujung pada narasi dukungannya pada Prabowo, namun Jokowi justru tengah menunjukan sikap yang arogan.

Baca juga: Kapolri Listyo Sigit Prabowo Sampaikan Duka Cita yang Mendalam atas Kepergian Azyumardi Azra

Umam menganggap pernyataan Jokowi itu tak hanya menyentil Prabowo, tapi juga Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri.

Pasalnya, Megawati juga pernah mengalami kekalahan dalam dua Pilpres, 2004 dan 2009. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu disebut tak punya sensitivitas, karena melupakan peran Prabowo dan Megawati dalam karier politiknya.

“Prabowo yang mendukungnya di Pilkada DKI Jakarta 2012, dan juga peran Megawati yang mendukungnya di Pilpres 2014 dan 2019,” ungkapnya.

Ia mengingatkan agar Jokowi lebih sensitif dalam menjalankan komunikasi politiknya.

Umam menegaskan, Jokowi tak boleh merasa jemawa karena tengah berada di puncak kepemimpinan.

“Sebaiknya Jokowi kembali memahami nasihat ‘ojo dumeh’, atau jangan mentang-mentang, karena di balik capaian dan prestasi kita, selalu ada peran orang lain dibelakangnya,” imbuhnya.(*)

 

(Kompas.com / Tatang Guritno / Bagus Santosa)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved