Azyumardi Azra Meninggal Dunia
Kapolri Listyo Sigit Prabowo Sampaikan Duka Cita yang Mendalam atas Kepergian Azyumardi Azra
Kapolri Listyo Sigid Prabowo menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian Prof Dr. H. Azyumardi Azra, MA.
Penulis: Sinatrya Tyas | Editor: Fitriana Andriyani
TRIBUNAMBON.COM - Kapolri Listyo Sigit Prabowo menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian Prof Dr. H. Azyumardi Azra, MA.
Melalui unggahan di akun Twitter miliknya, Kapolri mendoakan semoga Azyumardi Azra meninggal dalam keadaan husnul khotimah dan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT.
"Innalillahi wainna ilaihi rojiuun. Turut berbela sungkawa yang mendalam atas berpulangnya Bapak Prof. Dr. H. Azyumardi Azra, MA. Teriring doa semoga Almarhum husnul khotimah dan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Aamiin ya Robbal Alamin," tulis Kapolri.
Profil Azyumardi
Berikut ini profil Azyumardi Azra, Ketua Dewan Pers yang meninggal dunia di Selangor, Malaysia, Minggu (18/9/2022).
Sebelumnya, Azyumardi mengalami gangguan kesehatan dalam kunjungan kerjanya di Malaysia.
Azyumardi kemudian menjalani perawatan intensif oleh tim dokter di Rumah Sakit Selangor, Malaysia.
Azyumardi Azra lahir di Lubuk Alung, Padangpariaman, Sumatera Barat pada 4 Maret 1955.
Ia meninggal saat berusia 67 tahun.

Dia menikah dengan Ipah Farihah dan dikaruniai empat anak, yakni Raushanfikri Usada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra.
Azyumardi Azra dikenal sebagai profesor ahli sejarah, sosial, dan intelektual Islam.
Dia pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, pada masa jabatan 1998-2006.
Pada 2006, posisinya sebagai Rektor resmi digantikan oleh Prof. Dr. Komaruddin Hidayat.
Pada 2010, dia memperoleh titel Commander of the Order of British Empire, yakni sebuah gelar kehormatan dari Kerajaan Inggris dan menjadi 'Sir' pertama dari Indonesia.
Tujuh tahun kemudian (2017), Azyumardi Azra mendapatkan Orde Matahari Terbit: Kelas Bintang Emas dan Perak (Order of Rising Sun: Gold and Silver Star) yang merupakan tingkat tertinggi tanda jasa itu, dari Kaisar Jepang saat itu, Akihito (Heisei).