Breaking News:

ABK Korban Perbudakan

Nobar Film Before You Eat, Jurnalis di Ambon Didorong Beri Ruang untuk Suara ABK Korban Perbudakan

Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia, Afdillah mengatakan, apa yang digambarkan dalam film ini hanyalah sebagian kecil dari fakta lapangan yang ter

Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com / Adjeng
AMBON: Suasana diskusi usai nonton bareng Before You Eat di Ambon, Maluku, Rabu (29/9/2022) malam. 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Setelah pertama kali berlayar Maret lalu, film dokumenter Before You Eat (BYE) akhirnya berlabuh di Ambon, Maluku.

Ini adalah kali pertama film BYE membuka layar di Indonesia Timur.

Film yang diproduksi oleh Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) dan didukung oleh Greenpeace ini dibuat sebagai desakan bagi pemerintah Indonesia untuk serius membenahi kebijakan tata kelola perekrutan ABK Indonesia, serta bersikap lebih tegas dalam memberikan perlindungan pada ABK Indonesia yang bekerja di kapal ikan asing. 

Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia, Afdillah mengatakan, apa yang digambarkan dalam film ini hanyalah sebagian kecil dari fakta lapangan yang terjadi dan menimpa para ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal ikan asing.

“Jika merujuk pada data SBMI, jumlah ABK yang mengadu hingga 2021 mencapai 634 kasus. Itu hanya yang mengadu pada SBMI. Belum lagi yang mengadu pada serikat lain. Dan sampai hari ini kita tidak tahu berapa jumlah ABK asal Indonesia yang bekerja di kapal ikan asing. ABK ini berasal dari seluruh wilayah Indonesia termasuk Maluku,” kata Afdillah dalam diskusi yang digelar bersama jurnalis di Canie Coffee, Ambon, Rabu (28/9/2022) malam.

Kata Afdillah, perlu dukungan banyak pihak salah satunya jurnalis untuk mengawal isu-isu perbudakan ABK ini agar semakin banyak masyarakat paham dan tidak terjebak dalam praktik perbudakan yang kerap diawali dengan iming-iming manis.

Media, kata dia punya tugas untuk mengedukasi serta menjadi salah satu alat untuk mendesak perubahan kebijakan.

“Saya percaya media massa masih punya kekuatan untuk mendorong terjadinya perubahan,” kata Afdillah.

Sementara itu, Ketua AJI Ambon, Tajudin Buano mengatakan, film Before You Eat membuka perspektif baru bagi jurnalis di Ambon yang selama ini terkenal dengan potensi kelautan dan perikanannya.

“Kami berterima kasih pada Greenpeace yang sudah membawa film ini sampai di Ambon. Apalagi jika melihat film tadi, ternyata ada juga warga Ambon yang menjadi korban perbudakan. Tentu saja ini menjadi tugas bersama untuk membantu menyuarakan kepada pemerintah agar segera mengambil tindakan agar tidak ada lagi anak bangsa yang jadi korban di kapal ikan asing,” kata Tajudin.

Baca juga: Kronologis Amri Suap Eks Wali Kota Ambon, Ternyata Sepengetahuan Pimpinan Alfamidi Ambon

Aliansi Jurnalis Independen ( AJI ) Kota Ambon juga mengajak jurnalis dan media massa, khususnya di Ambon, untuk memberi lebih banyak ruang kepada pemberitaan-pemberitaan terkait anak buah kapal ( ABK) di kapal-kapal ikan asing yang menjadi korban eksploitasi, perbudakan, dan perdagangan orang.

Film Before You Eat bercerita tentang perbudakan modern yang dialami oleh orang-orang Indonesia yang bekerja di kapal-kapal ikan milik asing. 

Film yang disutradari oleh Kasan Kurdi tersebut menampilkan banyak footage yang direkam sendiri oleh para ABK dengan menggunakan ponsel. 

Di film tersebut, para ABK juga bercerita bagaimana penderitaan yang mereka alami selama bekerja di kapal-kapal asing.

Hingga saat ini, film Before You Eat sudah berlayar di 29 kota dan membuka 72 layar serta menggandeng 45 mitra dengan total jumlah penonton 4419. Film ini juga akan berpartisipasi di 3 festival film.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved