Sabtu, 2 Mei 2026

Ambon Hari Ini

Gempa Besar dan Tsunami Mengintai, Ambon Tak Layak Jadi Kota?

Gempa besar dan tsunami mengintai Kota Ambon dan Maluku karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar.

Tayang:
(Shutterstock/Evgen Matveev)
Ilustrasi tsunami. Gempa besar dan tsynami mengintai Kota Ambon dan Maluku karena terletak di tiga titik pertemuan lempeng. Pernah diucapkan pakar gempa, Ambon berpoteni mengalami tsunami besar seperti Aceh. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Mesya Marasabessy

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Provinsi Maluku termasuk Kota Ambon rawan gempa dan tsunami karena terletak pada pertemuan tiga lempeng besar yakni Pasifik, Indo Australia dan Eurasia.

Lempeng Indo Australia masuk ke bawah Eurasia, bertemu dengan Lempeng Pasifik sehingga mengakibatkan patahan yang tidak beraturan.

Daerah-daerah rawan gempa di Maluku di antaranya wilayah-wilayah bagian tenggara, Pulau Ambon, Seram dan Buru.

Sedangkan, pusat patahan di antaranya berada di Laut Ambon dan SBB.

Penjabat Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena tak memungkiri penyebab Ambon rawan bencana lantaran pada kawasan ini terdapat pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi.

“Penyebab Ambon rawan bencana karena terdapat pertemuan tiga lempeng penyusun kulit bumi yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik,” kata Bodewin Wattimena disela-sela kegiatan simulasi mekanisme tanggap bencana banjir dan tanah longsor di Batu Merah Ambon, Senin (19/9/2022).

Baca juga: Bodewin Wattimena Ungkap Penyebab Ambon Rawan Bencana Longsor hingga Gempa

Baca juga: Gempa di Kobisonta Mengisyaratkan Maluku Rawan Gempa

Ia menjelaskan, pertemuan zona ini bukan saja membentuk zona tumbukan atau subduksi yang dapat menjadi sumber gempa lokal.

Namun, juga sumber gempa lain yang berasal dari Laut Banda dan Samudera Pasifik atau gempa tektonik yang sangat mempengaruhi formasi batuan di Maluku, karakteristik sesar, atau patahan, serta aktivitas gempa bumi.

Selain itu, kondisi topografi Kota Ambon sebagian besar daerah perbukitan dan berlereng terjang dengan kemiringan lerengnya lebih dari 20 persen.“Serta kondisi curah hujan dari sedang sampai lebat juga mempengaruhi terjadinya bencana,” ungkap Wattimena.

Lalu masih layakkah Ambon jadi kota?

Penelitian pakar gempa, Prof. Ron Harris dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat pada 2013 lalu, pernah mengatakan kalau topan Haiyan menghancurkan Philipina karena badai tropis, maka pulau Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya diancam oleh badai gempa.

Tsunami diprediksi kuat bakal melanda, skalanya sama dengan Banda Aceh, akibat siklus tektonis yang terjadi sekali dalam beberapa ratus tahun.

"Ambon Bahaya sekali, akan ada next Banda Aceh (Banda Aceh berikutnya) saya yakin itu,” ujar pakar gempa, Prof Ron Harris dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat .

Guru besar geologi yang meneliti gempa berdasarkan data geologi dan arkeologis itu menyatakan, Ambon dan pulau-pulau sekitarnya terancam gempa di atas 8 skala richter, karena adanya akumulasi energi di pertemuan tiga lempeng kulit bumi.

Akumulasi akibat gerakan lempeng Pasifik mendorong lempeng Eurasia. Kecuali lempeng Indo-Australia yang cenderung pasif, aksi dorong kedua lempeng berakibat terkumpulnya energi yang siap terlepas dan menimbulkan gempa dahsyat.

Gerakan lempeng Pasifik yang menekan Eurasia berlangsung setiap hari. Itulah sebabnya, gempa kecil intens terjadi setiap hari beberapa kali, meski tidak dirasakan, kecuali dengan seismograf, alat pengukur gempa.

Ron Harris lah yang meramalkan terjadinya gempa di Sumatera, yang akhirnya terjadi di Banda Aceh tahun 2004.

Dalam risetnya tentang patahan Sumatera, dia mengingatkan dalam papernya yang terbit tahun 1997.

“Akan ada bencana besar di Sumatera karena adanya patahan aktif,” sebutnya pada jurnal ilmiahnya itu. “Dan begitulah yang terjadi,” imbuhnya saat diwawancarai di Desa Galala, Kota Ambon.

Bahkan dari catatan sejarah gempa, yang diperoleh di Belanda, Ron Harris dan tim terkejut kalau Maluku pernah diserang oleh badai gempa di masa lalu. Tercatat sebanyak 23 gempa besar diantaranya banyak menimbulkan tsunami. Terjadi dalam kurun waktu antara tahun 1600-1800. Dia memprediksi badai tersebut akan kembali terulang, sesuai siklusnya.

Kecuali gempa Galala tahun 1950 yang dinilai relatif misterius, karena hanya melanda desa itu, gempa besar terakhir dengan gelombang tsunami menghantam pulau Ambon terjadi tahun 1852, yang mana air naik setinggi 14,5 meter. Seluruh bangunan di Kota Ambon rata bersama tanah, dari pantai hingga kawasan Batugajah Atas, lokasi Makorem 151/Binaya saat ini. Jika terakhir melanda Ambon tahun 1852, maka sesuai siklus 150 tahun sekali, maka sekarang ini, pulau Ambon dan sekitarnya sudah berada di dalam siklus tersebut.

Ron Harris menyatakan, korban akibat tsunami harus dicegah. Seperti di Aceh, meski risetnya sudah terbit beberapa tahun sebelum itu terjadi, tapi akuinya tak berguna. Banyak orang mati, karena ketidaktahuan informasi atau awam soal tsunami.

Dia menyatakan penyesalannya terhadap banyaknya korban yang mestinya bisa dikurangi itu. Yang dia katakan sebagai akibat kurang gencarnya dia mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat di Sumatera. Ron Harris pun mengatakan, dia tidak ingin hal yang sama terulang di Maluku. “Saya boleh gagal di Aceh, tapi saya tidak boleh gagal di Maluku,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Maluku tengah merancang sebuah program guna menekan resiko gempa maupun tsunami.

Untuk itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. (*)
 
 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved