Breaking News:

Maluku Terkini

Obat-obatan & BBM Langka di Namlea-Buru, Kantor DPRD Diseruduk Massa hingga Kaca Jendela Pecah

Para pengunjuk rasa mendatangi kantor DPRD Buru, meminta DPRD memanggil pihak-pihak terkait, untuk mempertanggung jawabkan soal kelangkaan BBM dan oba

Penulis: Andi Papalia | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com/Andi
MALUKU: HMI Cabang Namlea dan masyarakat adat unjuk rasa di depan kantor DPRD Kabupaten Buru, Rabu (31/8/2022). 

Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Andi Papalia

NAMLEA, TRIBUNAMBON.COM - Puluhan masyarakat dan organisasi HMI Cabang Namlea, berdemonstrasi di kantor DPRD Buru, Rabu (31/8/2022).

Unjuk rasa itu dilaksanakan terkait kelangkaan obat-obatan di Rumah Sakit umum Daerah (RSUD) Namlea, serta kelangkaan BBM)'>Bahan Bakar Minyak ( BBM) di Kabupaten Buru.

Para pengunjuk rasa mendatangi kantor DPRD Buru, meminta DPRD memanggil pihak-pihak terkait, untuk mempertanggung jawabkan soal kelangkaan BBM dan obat-obatan itu.

Pantauan TribunAmbon.com di lapangan pukul 11.00 WIT, unjuk rasa di kantor DPRD Buru itu sempat diwarnai aksi saling dorong, antara pendemo dengan pihak keamanan, dalam hal ini pihak kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Aksi saling dorong itu terjadi lantaran masa geram, karena tidak ada satupun anggota DPRD dan Sekwan yang menemui mereka.

Sehingga mereka ingin masuk ke dalam kantor DPRD Kabupaten Buru, namun dihalau.

Aksi saling dorong tersebut tidak berlangsung lama, karena masa dapat ditertibkan, sehingga unjuk rasa itu berlangsung dengan aman, meski beberapa kaca jendela pecah.

Salah satu orator, Mursal Souwakil mengatakan, sangat resah deng pihak RSUD Namlea, karena sampai saat ini stok obat-obat belum juga diadakan.

Sehingga, banyak warga yang merujuk keluarga mereka ke rumah sakit tersebut merasa khawatir, lantaran tidak ada stok obat.

"DPRD segera memanggil pihak RSUD Namlea, karena dengan kondisi seperti itu, dapat membahayakan masyarakat ketika di rujuk ke situ," kata Mursal.

Dikatakan, rumah sakit satu-satunya yang ada di Kabupaten Buru, memiliki anggaran cukup besar, namun fasilitasnya sangat terbatas, hal itu perlu dipertanyakan.

"Bisa-bisa anggaran rumah sakit begitu besar, tapi fasilitasnya terbatas, ataukah mungkin ada pihak tertentu yang sengaja menggunakan anggaran itu untuk kepentingan pribadi, sehingga stok obat tidak bisa diadakan," tandasnya.

Baca juga: Puan Maharani Akui DPR Belum Terima Usulan Kenaikan Harga BBM dari Pemerintah

Selain itu, salah satu orator menambahkan, terkait kelangkaan BBM di Kabupaten Buru, DPRD secepatnya ambil langkah, agar masyarakat tidak merasa terbebani.

"Kalau BBM langkah harga minyak jangan naik, hal ini membuat masyarakat susah, untuk itu DPRD jangan tinggal diam, segera mengambil langkah cepat," kata dia dalam orasinya.

Menurutnya, dengan kelangkaan serta mahalnya harga minyak, diduga banyak pihak mulai 'nakal'.

"Diduga ada pihak yang mulai nakal, sengaja minyak ditimbun dan menaikan harga sepihak, jadi DPRD harus tegas," tandasnya.

Adapun point tuntutan aksi, yaitu;

  1. DPRD Buru panggil pengusaha yang terlibat dalam usaha BBM, karena diduga mendistribusikan BBM tidak tepat sasaran;
  2. DPRD Buru panggil Direjtur RSUD Namlea agar meminta keterangan terkait kelangkaan obat-obatan;
  3. DPRD Buru harus membentuk tim Pansus untuk menyelidiki kasus kelangkaan obat-obatan di RSUD Namlea;
  4. DPRD Buru untuk mengevaluasi Direktur RSUD Namlea, dan pihak rumah sakit terkait kelangkaan obat-obatan.(*)
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved