Breaking News:

Emas di Gunung Botak

Sungai Anahoni Berubah Warna, Hentihu; Aktivitas Pertambangan di Gunung Botak Tidak Sesuai Aturan

Seperti yang terjadi di Sungai Anahoni di Desa Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely, yang tercemar  bahan kimia berbahaya jenis Sianida.

Penulis: Andi Papalia | Editor: Adjeng Hatalea
Sumber; Istimewa
Tangkapan layar video, Sungai Anahoni Gunung Botak berubah warna jadi biru. 

Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Andi Papalia

NAMLEA, TRIBUNAMBON.COM - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buru, Adjie Hentihu menyebutkan, aktivitas pertambangan di lokasi tambang emas ilegal Gunung Botak, Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Wailata, Kabupaten Buru, Maluku, tidak sesuai dengan aturan.

Seperti yang terjadi di Sungai Anahoni di Desa Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely, yang tercemar  bahan kimia berbahaya jenis Sianida.

"Maraknya penambang ilegal tidak sesuai aturan, sehingga telah merusak lingkungan dan ekosistem yang ada," kata Hentihu, Minggu (7/8/2022).

Dia mengungkapkan, dengan adanya aktivitas secara ilegal itu, akan berdampak di kemudian hari terhadap generasi.

"Jadi bukan tidak mungkin, pasti anak cucu kita yang akan menanggung akibatnya ke depan, karena apa yang kita lakukan hari ini terhadap kerusakan dan pencemaran lingkungan, dampaknya akan dirasakan di kemudian hari,"

Menurutnya, berdasarkan UU 32 Tahun 2009, tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu, yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.

Baca juga: Sungai Anahoni Gunung Botak Berubah Warna Biru, ini Tanggapan DLH Buru

Serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun.

"PP 85 Tahun 1999 limbah berbahaya dan beracun (LB3) adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan mengandung bahan berbahaya atau beracun, menurut sifat, konsentrasinya atau jumlah, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makluk hidup lainnya," jelas Hentihu.

Dikatakan, Pemda Burus serta TNI/Polri sudah melaksanakan penyisisan, sosialisasi, dan tindakan lainnya, kurang lebih sebanyak 30 kali, dan menghabiskan anggaran cukup banyak.

"Lebih dari 30 kali penyisiran, sosialisasi, dan lain-lain, dengab anggaran yang tidak sedikit, jadi mohon ada pengertian baiknya, bahwa aktivitas itu ilegal dan melanggar UU, serta sangsi hukumnya berat bagi yang melanggar," tandas Hentihu.

Diberitakan, beredar video air Sungai Anahoni, kawasan Gunung Botak – Pulau Buru berubah warna biru.

Perubahan warna air Sungai Anahoni terekam dalam video berdurasi 46 detik.

Seorang aparat kepolisian bersenjata lengkap juga tengah berjaga tepat di depan sungai.

Video tersebut ramai dibagikan pada Grup WhatsApp sejak Jumat (5/8/2022) malam.

Sehari sebelum viral video tersebut, Kamis (4/8/2022), sebanyak 204 personel gabungan menggelar penertiban kawasan tambang emas ilegal Gunung Botak, di Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Wailata.

Tenda serta kolam di lokasi Gunung Botak, Dusun Wamsait, Desa Dava Kecamatan Waelata, dihancurkan dengan cara dibakar.

Namun, bak rendaman di sepanjang bantaran kali Anahoni, Desa Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely, Kabupaten Buru tidak tersentuh saat penertiban.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved