Breaking News:

Kasus Penjualan Senpi

Dua Polisi yang Jual Senpi ke KKB Papua Dituntut 10 Tahun Bui, Ternyata Juga Pernah Terlibat Narkoba

Selain kedua oknum polisi tersebut, ada empat terdakwa lain yang berasal dari kalangan masyarakat.

Editor: Salama Picalouhata
TribunAmbon.com/ Tanita Pattiasina
Proses sidang perdana 6 terdakwa kasus penjualan senpi ke Papua di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (7/4/2021) 

TRIBUNAMBON.COM - Dua oknum polisi yang terlibat dalam kasus penjualan senjata api dan amunisi ke pihak yang berhubungan dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua dituntut selama 10 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Ambon.

Dua oknum polisi tersebut adalah San Herman dan Muhammad Rommy.

Selain kedua oknum polisi tersebut, ada empat terdakwa lain yang berasal dari kalangan masyarakat.

Mereka adalah Sahrul Nurdin, Ridwan Tahalua, Handri Mursalim, dan Andi Tanan.

“Meminta majelis hakim menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa Sahrul selama 12 tahun penjara, terdakwa San Herman, terdakwa Muhammad Rommy masing-masing selama 10 tahun penjara, terdakwa Ridwan Tahalua, terdakwa Handri Mursalim, dan terdakwa Andi Tanan masing-masing selama 8 tahun penjara dikurangi selama para terdakwa berada dalam masa penahanan,” kata JPU di Pengadilan Negeri Ambon, Rabu (19/5/2021) pagi.

Baca juga: Diberangkatkan dengan Kapal Milik Polairud, Jenazah Praka Angkotasan Dikawal Prajurit 733 Masariku

Baca juga: Kejar Pelaku Pembacokan Prada Aryudi dan Praka Alif, Danrem 172/PWY Sebut Upaya yang Dilakukan

JPU juga membeberkan hal yang memberatkan para terdakwa.

“Terdakwa Sahrul pernah dihukum dan menjadi tokoh utama dari peredaran senjata api tersebut. Terdakwa San Herman adalah oknum anggota polri melakukan penjualan senjata api laras panjang sebanyak 2 kali dan mengetahui penjualan senjata api tersebut akan digunakan di Papua,” bebernya.

“Terdakwa Muhammad Rommy adalah oknum anggota polri dan pernah di hukum dalam perkara narkotika. Terdakwa Ridwan Tahalua pernah di hukum dalam perkara narkotika, dan terdakwa Handri Mursalim menjual amunisi dalam jumlah yang sangat banyak yakni 600 butir,” tambahnya.

Dalam amar tuntutannya, JPU menyatakan keenam terdakwa terbukti bersalah dan diancam pidana dalam pasal 1 ayat 1 undang-undang darurat nomor 12 tahun 1951 tentang mengubah "Ordonnantie Tijdelikke Bijzondere Strafbepalingen" (STBL. 1948 No. 17) jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP pasal 338 Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

“Terdakwa melakukan tindak pidana secara bersama-sama sebagai yang melakukan atau turut serta melakukan dengan sengaja menerima menyerahkan, membawa, menguasai, menyimpan, menyembunyikan, mempergunakan senjata api dan amunisi tanpa hak,” kata JPU. (*)

Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved