Rabu, 13 Mei 2026

Kuti Kata Maluku

Kuti Kata; Mama Pung Piara

Yang kedua adalah "mama pung aer susu" (=air susu mama/ibu) yang jadi satu-satunya sumber makanan "ana merah-merah" (=bayi).

Tayang:
Editor: Fandi Wattimena
Sumber; Pdt. Elifas Tomix Maspaitella
Mama Hana Erubun di GPM Watngil 

AMBON  TRIBUNAMBON.COM - "Tagal mama pung piara, katong ade kaka su hidop" (=karena pemeliharaan mama, kita adik-kakak sudah hidup).

Konsep "mama pung piara" melukiskan dua hal yang kodrati padanya, yaitu pertama, kandungan mama, karena kita ada sejak "mama su deng badang" (=hamil, mengandung) sampai "jadi deng sagala bae" (=dilahirkan dan selamat).

Yang kedua adalah "mama pung aer susu" (=air susu mama/ibu) yang jadi satu-satunya sumber makanan "ana merah-merah" (=bayi).

Bahwa dalam masa "mulai deng badang sampe jadi" (=masa mengandung sampai persalinan) mama berusaha untuk menjaminkan hidup anaknya.

Usahanya sederhana yaitu "makang matel pohong deng katok santang" (=sayur matel dan daun katuk). Tetapi tujuannya mulia yakni "par tambah aer susu" (=merangsang produksi air susu).

Tujuan itu adalah untuk menjamin hidup "ana merah-merah" yang kelak akan lahir.

Jadi sebelum kita "jadi" (=lahir) mama telah berjuang agar "katong hidop" dan "hidop dari aer susu mama".

Baca juga: Kuti Kata; Jang Dengar

Baca juga: Kuti Kata; Basaleng

Saat kita lahir, "mama biang yang ambel" (=bidan kampung yang membantu persalinan) biasanya, sambil menggendong "ana merah-merah" itu lalu bilang untuk mama: "mari kasih susu ana nih" (=mari beri ASI untuk anakmu ini).

Namun, itu biasa dikatakan setelah "mama biang" memproklamasikan jenis kelamin anak itu, "aru-aru" (=anak laki-laki) atau "sempe" (=anak perempuan).

Setiap menyusui, dan setelah anak "abis isap susu" (=menyusu), mama sering pula berucap: "ungku turung e kaki tangang ampa, lalu mama pung ana mau basar tandang tanah" (=makanan turun ke kaki dan tangan, biar anakku besar dan menendang/injak tanah).

Ungkapan ini sebenarnya doa sederhana dalam harapan agar anak itu kelak bertambah besar dan segera berjalan dengan kakinya sendiri (=gambaran kemandirian).

Siapa pun, yang dalam hari-hari bersama anak itu, ketika "ana merah-merah" itu menangis, selalu memanggil mamanya: "mari kas' susu ana nih do", bila itu kakaknya, "mama, ade manangis, mau susu kapa" (=mari beri ASI kepada anak). Panggilan itu wujud kepedulian dan kasih papa atau kakak karena tangisan bayi/ade adalah pesan bahwa ia mau "susu".

Ia mau bersandar pada dada mamanya, mau makan dari "mama pung satu tetes aer susu."

"Mama pung piara" sesungguhnya menunjuk pada konsep umum pemeliharaan orangtua. Mengapa mama? Karena "konsep piara" lahir dari fungsi "jaga dari pagi sampe malang deng "kasih malang" (=menjaga dari pagi sampai malam dan memberi makan).

Setelah melahirkan, "kalu balong ampa pul' hari, balong par paduli" (=sebelum berakhir masa nifas) maka setiap hari mama dekat dengan "ana merah-merah"-nya.

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved