Breaking News:

Ambon Hari Ini

Sindir Orang di Status, Terdakwa Perkara UU ITE Menyesali Perbuatannya dan Mengaku Karena Emosi

Terdakwa menyatakan menyesal telah melakukan perbuatan itu meski tidak bermaksud mengumbar aib korban.

(Digital Trends)
Ilustrasi Facebook. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – TM, terdakwa perkara postingan bermuatan penghinaan atau pencemaran nama baik lewat akun facebook mengaku sangat menyesali perbuatannya.

Perempuan muda itu menyesal tersulut emosi karena merasa korban menghina kedua orang tuanya.

Hal itu diungkapkan TM ketika memberikan keterangannya sebagai terdakwa dalam persidangan  yang digelar di Pengadilan Negeri Ambon, (31/3/2021).

“Pada waktu itu, alasan saya memposting karena korban dan saksi korban menghina orang tua dan mencaci orang tua saya, walau tidak sebut nama mereka,” katanya.

 “Dia komentar di status saudara saksi korban. Saya unggah status dengan kondisi emosional karena merasa terhina,” lanjut dia.

Baca juga: Kepada Tim Kajian, Komnas Perempuan Sebut UU ITE Diskriminatif

Baca juga: Sebagai Pelaksana, Polri Siap Mendukung Apapun Hasil Rancangan Revisi UU ITE

Terdakwa menyatakan menyesal telah melakukan perbuatan itu meski tidak bermaksud mengumbar aib korban.

“Aib yang dimaksud itu ketika dia dulu tinggal dengan saya, baju saya kasih, makan saya kasih, tapi kenapa dia malah menghina orang tua saya, sebagai anak saya tidak terima,” jelasnya.

Terdakwa sendiri, didakwa melakukan tindak pidana pasal 45 ayat 1 Jo Pasal 27 ayat 3 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Terdakwa mengunggah status di laman facebook dengan isi postingan yang menyebutkan nama korban DD, 28 Mei 2020 lalu.

Sebelum menyebutkan nama korban, terdakwa lebih dahulu melakukan dua kali revisi atas unggahannya.

Korban yang tidak berteman dengan terdakwa di media sosial itu, mengetahui status tersebut dari kakak kandung korban sekitar pukul 21.00 WIT.

Korban tersinggung dan kemudian melaporkan kepada pihak kepolisian Maluku tanggal 29 Mei 2020.

Kedua pihak sempat melakukan mediasi. Namun tak menemukan titik temu, hingga akhirnya korban melanjutkan perkara. (*)

Penulis: Tanita Pattiasina
Editor: Salama Picalouhata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved