Maluku Terkini
Zhamar Percussion, Merek Lokal Alat Musik ‘Cajon’ Ambon Laris di Indonesia Timur
pembeli dari luar Ambon akan menghubunginya melalui Whatsapp maupun Sosial Media Zhamar Percussion untuk menanyakan harga dan spesifikasi cajon.
Penulis: Tanita Pattiasina | Editor: Fandi Wattimena
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina
AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Alat Musik Cajon milik brand lokal Ambon, Zhamar Percussion tak hanya diminati warga Ambon, tapi juga diincar warga dari daerah lain di Indonesia.
Diantaranya, Provinsi Papua, Papua Barat, NTT dan Maluku Utara.
Pemilik Zhamar Percussion, Brill Marpay kepada wartawan TribunAmbon.com mengatakan, ia pernah melayani pembeli seperti dari pulau Biak, Provinsi Papua.
“Biasanya pembeli dari daerah lain itu lagi datang ke Ambon atau mereka titip ke saudaranya yang sedang ke Ambon,” kata pria yang memulai bisnis cajon sejak Tahun 2015 itu.
Dia mengakui, pembeli dari luar Ambon akan menghubunginya melalui Whatsapp maupun Sosial Media Zhamar Percussion untuk menanyakan harga dan spesifikasi cajon.
Brill dan kedua rekan lainnya yakni Frangky Parinding dan Christian Lempoy menuturkan tidak menjual secara langsung cajon mereka itu, pembeli dari luar mengetahui dari social media mereka maupun informasi dari mulut ke mulut.
Lanjutnya, kualitas cajon mereka yang bagus dan harga yang relatif murah dibandingkan cajon merek luar negeri menjadi salah satu alasan pembeli membeli cajon buatan tangan mereka.
“Kalau harga ada yang Rp 850 ribu, Rp 1.250, yang cajon travel Rp 450 ribu saja,” kata Brill yang menyukai musik sejak duduk dibangku sekolah itu.
Setiap bulannya, mereka menjual empat hingga delapan buah cajon dari dua belas buah cajon yang di produksi.
Baca juga: Cliff Leiwakabessy: Opa Bing Sudah Bermusik sejak 1933
Baca juga: Duo Nazar - Jihad Ngamen Demi Hasrat Musik
“Untuk satu cajon, biasa memakan waktu tiga sampai empat hari karena juga menunggu cat dan plamir mongering,” katanya.
Brill menjelaskan, bahan yang digunakan juga lokal yakni Jenis Meranti dari Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.
“Kami mementingkan kualitas, jadi misalkan kayu dan triplek dari Namlea. Jenis tripleknya meranti, tebalnya sekitar 4 mm di bagian tapa, kalau pakai yang terlalu tebal tidak enak pas di pukul terus yang biasa dipakai itu 3 mm tapi terlalu tipis dan suara yang dihasilkan kurang bagus,” ujar dia.
Sedangkan, untuk badan cajon ketebalannya tripleksnya ada yang 9 mm dan 12 mm.
Lanjutnya, mereka menggunakan kawat snare tebal berukuran 14 inci yang digunakan untuk mengatur suara cajon.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/cajon_.jpg)