Breaking News:

Narkoba di Lapas Maluku

Cegah Kejadian Tindak Pidana, Lapas Kelas IIA Ambon Lakukan Upaya Preventif

Langkah ini diambil terlebih usai temuan penyelundupan paket narkoba jenis sabu di Lapas Kelas II A Ambon, Kamis (14/1/2021) lalu.

Adjeng Hatalea
Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambon, Saiful Sahri di Studio TribunAmbon.com, Senin (1/2/2021). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Adjeng Hatalea

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon mengupayakan langkah-langkah pencegahan atau preventif guna mencegah kejadian tindak pidana di lingkungan lapas.

Langkah ini diambil terlebih usai temuan penyelundupan paket narkoba jenis sabu di Lapas Kelas II A Ambon, Kamis (14/1/2021) lalu.

Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Ambon, Saiful Sahri menyebutkan, salah satu upaya yang tengah dilakukan, yakni optimalisasi sarana kesadaran.

“Kami ingin mereka sadar pelan-pelan. Untuk itu, kami sosialisasikan kepada warga. Kami tanamkan lagi kepada mereka bahwa jangan kamu menodai tempat ini dengan niat-niatmu yang buruk. Karena sesuatu yang buruk itu pasti akan terungkap,” ucap Saiful kepada wartawan di studio TribunAmbon.com, Senin (1/2/2021) sore.

Peningkatan kesadaran itu, lanjut dia, tidak hanya disosialisasikan di dalam lingkungan Lapas saja, melainkan menargetkan juga masyarakat umum di luar Lapas.  

Dia menambahkan, optimalisasi sarana keamanan juga dilakukan. Mulai dari pemasangan CCTV di area strategis Lapas dan peran serta pegawai untuk terus melakukan pengawasan.

Menurutnya, optimalisasi tersebut dilakukan pihaknya secara terukur berdasarkan Prosedur Operasi Standar atau Standar Operational Procedure (SOP).

“Upaya yang dilakukan Lapas ini untuk meminimalisir hal tersebut (red, pelanggaran). Jika itu unsur pidana kita pasti laporkan. Yustisial kami serahkan kepada pihak kepolisian,” kata Saiful.

Dia menyebutkan, tidak hanya kejadian tindak pidana, namun setiap pelanggaran yang dilakukan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di lingkungan lapas akan dikenakan sanksi. Mulai dari hukuman ringan, sedang hingga berat.

Hukuman terberat menurutnya, yakni mencabut hak ‘Register F’ sehingga WBP tersebut tidak lagi mendapatkan haknya berupa remisi, asimilasi maupun integrase.

“Dengan menghilangkan atau mencabut hak register F, maka dia tidak dapat remisi, integrase selama satu tahun dan juga berkelakuan baik selama enam bulan. Jika Enam bulan tidak berkelakuan baik, maka dia tidak akan dapat. Tapi kalau enam bulan itu dia berkelakuan baik maka dia akan diikutkan untuk mendapatkan remisi,” terang dia.

Menurutnya, sangatlah merugi jika WBP tidak menjaga di selama di Lapas. Untuk itu, dia meminta pihak keluarga untuk memberikan dukungan yang positif kepada mereka.

“Kami tidak main-main. Tidak ada ruang untuk narkoba di dalam lapas,” tuturnya.

Penulis: Adjeng Hatalea
Editor: Salama Picalouhata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved