Jumat, 24 April 2026

Wisata Maluku

1.966 Langkah Menuju Way Ela di Negeri Lima, Bencana Alam Menata Ulang Wajahnya 

Bendungan alam Way Ela, atau akrab disebut Way Ela, terbentuk sejak Juli 2013, ketika longsor besar dari bukit Uluk

Penulis: Maula Pelu | Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/Maula Pelu
BENDUNGAN WAY ELA - Itups saat duduk diam, menikmati panorama bendungan Way Ela, Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, Selasa (30/12/2025). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Negeri Lima, sebuah desa yang tenang di Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. 

Alamnya menyimpan kejutan yang lahir dari peristiwa tak terduga. 

Bendungan alam Way Ela, atau akrab disebut Way Ela, terbentuk sejak Juli 2013, ketika longsor besar dari bukit Uluk Hatu menutup aliran sungai Way Ela. 

Lantas jebol hingga sekitar 40 juta meter kubik air tumpah dan menerjang perkampungan di pesisir pantai itu. 

Dikabarkan kurang lebih 470 rumah diseret ke laut, ribuan warga dievakuasi. 

Dari peristiwa itu, sebuah danau alami terbentuk apik dengan lebar mencapai 215 meter dan 1.100 meter. 

Bencana seperti menata ulang wajahnya, menghadirkan panorama yang tak kalah memesona dari Danau Toba di Sumatra Utara. 

BENDUNGAN WAY ELA - Wisatawan dari Kota Ambon, saat berpose berlatar belakang Bendungan Way Ela dari ketinggian, berlokasi di Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, Selasa (30/12/2025).
BENDUNGAN WAY ELA - Wisatawan dari Kota Ambon, saat berpose berlatar belakang Bendungan Way Ela dari ketinggian, berlokasi di Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah, Selasa (30/12/2025). (TribunAmbon.com/Maula Pelu)

Baca juga: Basudara Benelli Ambon: Rindu yang Menyeruak hingga Dijamin Auto Ganteng

Baca juga: Itinerary Sehari di Pulau Saparua - Maluku, Bisa Kunjungi Tempat-tempat Ini

Lokasinya berjarak kurang lebih 2 kilo dari pusat perkampungan Negeri Lima, atau sekira 1.966 langkah kaki orang dewasa 

Lintasan menuju bendungan tak ekstrem, namun tetap menguras keringat mengingat tanjakan dan turunan tak bisa dielak. 

Yakin langkah tak terasa, karena nyanyian burung, sejuk udara hijau landscape menemani hingga tiba tujuan. 

“Huufff, Cape juga, hehehe,” kata salah satu pengunjung diiringi dengan ayunan langkah perlahan bersama kelompoknya 

Setibanya di lokasi, lelah seakan terbayar lunas. 

Air bendungan berwarna hijau, memantulkan rona pepohonan yang rimbun mengelilingi danau. . 

Suasana hening menyelimuti kawasan itu, hanya dipecah oleh kicauan burung dan gemuruh lembut aliran sungai. 

Sumber: Tribun Ambon
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved