Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo
MASOHI,TRIBUNAMBON.COM - Tarian Siamale dari Negeri Lonthoir Andan Orsia, Kecamatan Kepulauan Banda tampil sakral saat perhelatan Banda Heritage Festival (BHF), Sabtu (29/11/2025) lalu.
Tarian Siamale dibawakan oleh sembilan penari utama laki-laki, penabuh tipa dan gamelan, belasan penari perempuan, adapula yang memiliki peran sakral membawa sesajian berupa sirih pinang dan lainnya.
Tarian sakral tersebut memiliki makna perayaan kemenangan, formasinya tak kalah menarik kala puluhan penari tampil apik selama lebih dari 20 menit.
Di sesi pertama, sembilan penari laki-laki membawakan tarian cakalele khas Banda, disusul dengan tarian dan kapata dengan formasi melingkari dua perempuan.
Tarian ketiga yakni 'Siamale' yang tak kalah sakral kala tetua adat merapal kapata diikuti tarian khas para penari lelaki.
Usman Lamane, Ketua Adat Negeri Lonthoir, menjelaskan bahwa tarian Siamale melambangkan kemenangan yang dibawakan oleh sembilan penari utama.
Ia mengungkapkan bahwa Siamale terdiri dari dua suku kata yakni Sia yang artinya sembilan, dan male yang artinya orang.
"Siamale itu artinya sembilan orang, mereka yang menjadi penari utama," jelas Usman Lamane.
Baca juga: Cold Storage Kesuy di SBT Kini Jadi Pusat Perhatian Sejumlah Investor
Baca juga: Ternyata Pemasangan Bendera di JMP Ambon Langgar Aturan dan Ancam Keselamatan Pengguna Jalan
Dirinya menyebut bahwa tarian tersebut menggambarkan budaya para leluhur.
"Ini kan tarian adat, melambangkan budaya leluhur yang sudah ada jauh sebelum peperangan," tukasnya.
Disampaikan, kapata 'O Siamale' sendiri memiliki makna 'kesiapan bagi seseorang'.
Sementara formasi cakalele dengan atribut adat melambangkan peperangan, para penari juga menggunakan baju khusus yang berbeda warna tentu memiliki makna tersendiri.
Usman Lamane menguraikan, penari dengan pakaian hitam ialah kapitan atau pemimpin, penari yang mengenakan baju kuning melambangkan Kesejahteraan, sementara baju hijau melambangkan negeri yang subur, dan penari yang mengenakan baju merah melambangkan keberanian.
Paling menarik yakni pembawa sembilan bambu, dimana kata Usman Lamane hal itu melambangkan sembilan soa mata rumah (marga) yang sudah ada sebelum masa penjajahan. (*)