Maluku Hari ini
BPS Ungkap Arus Migrasi di Maluku, Ambon Jadi Magnet Pendatang tapi Banyak Warga Keluar
BPS Maluku mencatat sekitar 6 dari 100 penduduk Maluku merupakan migran seumur hidup, dengan Kota Ambon menjadi daerah tujuan migrasi tertinggi.
Penulis: Maula Pelu | Editor: Ode Alfin Risanto
Ringkasan Berita:
- BPS Maluku mencatat sekitar 6 dari 100 penduduk Maluku merupakan migran seumur hidup, dengan Kota Ambon menjadi daerah tujuan migrasi tertinggi.
- Maluku Tenggara tercatat sebagai daerah pengirim migran terbesar dengan migrasi keluar 29,17 persen, sementara Ambon juga mencatat migrasi keluar tertinggi.
- Dalam lima tahun terakhir, Maluku Tengah menjadi tujuan migrasi paling menarik dengan migrasi neto tertinggi sebesar 3,23 persen, sedangkan Ambon mencatat migrasi neto terendah..
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku mencatat mobilitas penduduk antar daerah di Maluku masih cukup tinggi berdasarkan Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025.
Kepala BPS Maluku, Maritje Pattiwaellapia, menyampaikan hasil survei menunjukkan sekitar 6 dari setiap 100 penduduk Maluku merupakan migran seumur hidup.
Migrasi seumur hidup didefinisikan sebagai perbedaan antara provinsi tempat tinggal saat survei dan provinsi tempat lahir.
Baca juga: Nenek 67 Tahun di Ambon Ditipu Ratusan Juta Sejak 2022, Jefri Melsasail Dipolisikan
Baca juga: Pokdarwis Resmi Kelola Tanusang Geser, Pemkab SBT Siapkan Program Penguatan Wisata
Ia menjelaskan, tempat tinggal saat survei mengacu pada tempat seseorang biasanya tinggal, yakni sudah menetap selama satu tahun atau lebih, atau kurang dari satu tahun tetapi memiliki niat untuk menetap.
Berdasarkan hasil SUPAS 2025, Ambon menjadi daerah dengan persentase migrasi masuk seumur hidup tertinggi di Maluku, yakni mencapai 28,66 persen.
Posisi berikutnya ditempati Tual dengan migrasi masuk sebesar 19,42 persen dan Buru sebesar 18,71 persen.
“Angka ini menunjukkan bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki daya tarik yang cukup kuat sebagai tujuan perpindahan penduduk dalam jangka panjang,” kata Maritje dalam rilisnya yang diluncurkan BPS Maluku.
Sementara itu, daerah yang tercatat sebagai pengirim migran terbesar adalah Maluku Tenggara dengan migrasi keluar mencapai 29,17 persen, disusul Kota Tual sebesar 23,73 persen.
Fenomena menarik terlihat di Kota Ambon. Meski menjadi daerah tujuan migrasi utama, kota ini juga mencatat migrasi keluar yang sangat tinggi, yakni mencapai 44,18 persen.
Menurut Maritje, kondisi tersebut menujukan Ambon tidak hanya berfungsi sebagai pusat penarik penduduk dari berbagai daerah, tetapi juga menjadi daerah asal bagi banyak penduduk yang kemudian berpindah ke wilayah lain.
Di sisi lain, daerah dengan tingkat migrasi masuk relatif rendah antara lain ialah Kepulauan Tanimbar, Maluku Barat Daya, dan seram Bagian Timur.
Selain migrasi seumur hidup, SUPAS 2025 juga mencatat migrasi risen, yaitu perpindahan penduduk yang diukur berdasarkan perbandingan tempat tinggal saat survei dengan tempat tinggal lima tahun sebelumnya.
“Hasil SUPAS 2025 menujukan sekitar 15 dari 1.000 penduduk Maluku usia lima tahun ke atas merupakan migran risen, atau penduduk yang lima tahun sebelumnya tinggal di luar Provinsi Maluku,” jelas Maritje.
Dalam kategori migrasi risen, Kabupaten Maluku Tenggara mencatat persentase migrasi masuk tertinggi sebesar 5,33 persen dengan migrasi keluar 2,74 persen.
Sementara itu, Kota Ambon mencatat migrasi masuk sebesar 4,96 persen dan migrasi keluar mencapai 9,26 persen.
Beberapa wilayah menunjukkan tren positif sebagai tujuan perpindahan penduduk dalam lima tahun terakhir.
Kabupaten Maluku Tengah mencatat migrasi masuk sebesar 4,78 persen dan migrasi keluar hanya 1,56 persen.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Maluku Tenggara dengan migrasi masuk 5,33 persen dan migrasi keluar 2,74 persen, serta Buru Selatan dengan migrasi masuk 2,64 persen dan migrasi keluar 1,24 persen.
“Data ini mengindikasikan bahwa wilayah-wilayah tersebut mulai memiliki daya tarik yang lebih besar sebagai tujuan migrasi dalam lima tahun terakhir,” katanya.
Sebaliknya, Ambon menjadi daerah dengan migrasi risen neto terendah di Maluku, yakni minus 4,30 persen.
Angka tersebut menunjukkan jumlah penduduk yang keluar dari Kota tersebut lebih besar dibandingkan jumlah penduduk yang masuk.
Pola yang sama juga terlihat di Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kota Tual, meskipun dengan intensitas yang lebih kecil.
Di sini lain, Kabupaten Maluku Tengah mencatat migrasi risen neto tertinggi sebesar 3,23 persen.
Capaian ini menunjukkan semakin kuatnya posisi daerah tersebut sebagai tujuan perpindahan penduduk baru di Maluku.
Maritje menilai hasil SUPAS 2025 memperlihatkan bahwa pusat pertumbuhan penduduk di Maluku mulai berkembang ke sejumlah wilayah di luar Ambon.
“Jika sebelumnya mobilitas penduduk lebih terpusat ke Ambon, kini beberapa daerah seperti Maluku Tengau, Maluku Tenggara, dan Buru Selatan mulai menunjukkan daya tarik yang semakin kuat sebagai tujuan migrasi,” pungkasnya. (*)
| Idul Adha 2026, TP PKK Maluku Salurkan Kurban untuk Warga dan Panti Asuhan |
|
|---|
| Kasus Dugaan Korupsi Rp41 Miliar di PT Bipolo Gidin, Kejati Maluku Masih Tunggu Audit BPK |
|
|---|
| Polda Maluku Limpahkan Berkas Tahap 1 Dugaan Korupsi Proyek Jalan Danar–Tetoat ke Kejati |
|
|---|
| Terlibat Kasus Tambang, Dua Anak Mantan Bupati SBB Mendekam di Jeruji Besi Polda Metro Jaya |
|
|---|
| Polres SBB Gagalkan Pengiriman 120 Kg Sinabar Ilegal ke Ambon, 2 Warga Diamankan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/bps-maluku-1235.jpg)