SBT Hari Ini
Kasus Dugaan TPPO Jadi Alarm, Nakertrans SBT Perketat Data Tenaga Kerja
Peristiwa ini membuka kembali fakta masih lemahnya pengawasan terhadap proses perekrutan dan penempatan tenaga kerja migran asal daerah.
Penulis: Haliyudin Ulima | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Kasus yang menimpa Suriani Sula, warga Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), yang diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Libya, menjadi alarm serius bagi Pemerintah Daerah.
- Peristiwa ini membuka kembali fakta masih lemahnya pengawasan terhadap proses perekrutan dan penempatan tenaga kerja migran asal daerah, terutama yang berangkat melalui jalur nonprosedural.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Haliyudin Ulima
BULA, TRIBUNAMBON.COM – Kasus yang menimpa Suriani Sula, warga Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), yang diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di Libya, menjadi alarm serius bagi Pemerintah Daerah.
Peristiwa ini membuka kembali fakta masih lemahnya pengawasan terhadap proses perekrutan dan penempatan tenaga kerja migran asal daerah, terutama yang berangkat melalui jalur nonprosedural.
Penguatan edukasi kepada masyarakat, pendataan calon pekerja migran, serta koordinasi lintas lembaga dinilai penting agar kasus serupa tidak kembali terulang dan keselamatan warga SBT yang bekerja di luar negeri dapat lebih terjamin.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) SBT menegaskan, pihaknya kini memperketat pendataan seluruh calon tenaga kerja asal SBT yang diberangkatkan ke luar daerah maupun luar negeri.
“Saya sudah minta semua dokumen anak-anak SBT yang dibawa, mulai dari nama, alamat, sampai orang tuanya siapa, supaya kejadian seperti ini bisa dimonitor secara baik,” ujarnya Kamis (5/2/2026).
Meski begitu, dirinya memastikan tidak semua tenaga kerja asal SBT bermasalah.
Baca juga: Pemda SBT Telusuri Agen Penyalur Warga yang Diduga Disekap di Libya
Baca juga: Potensi Pariwisata di Maluku Tengah Dinilai Bisa Dongkrak PAD
Hingga saat ini, terdapat tiga hingga empat warga SBT yang bekerja di Arab Saudi melalui perusahaan resmi dan dalam kondisi aman.
“Mereka dikirim melalui perusahaan resmi, sampai hari ini tidak ada masalah,” katanya.
Sementara itu, beberapa warga SBT lainnya masih berada di Jakarta dalam masa penampungan dan pembekalan.
“Mereka masih di penampungan, masih tahap pembekalan, belum diberangkatkan,” katanya.
Pihaknya berkomitmen agar kasus seperti Suriani tidak kembali terjadi di kemudian hari.
“Kami ingin memastikan kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di Kabupaten Seram Bagian Timur, khususnya terhadap tenaga kerja Indonesia asal SBT,” tegasnya.
Ia menambahkan, selain berkoordinasi dengan keluarga korban, pemerintah daerah juga terus melacak agensi yang diduga terlibat dalam kasus ini.
“Sampai hari ini kami masih melacak agensinya dari Indonesia siapa yang mengirim, sambil terus berkoordinasi dengan keluarga,” tutupnya.(*)
| Angkat Identitas Daerah, PDI Perjuangan SBT Dorong Makanan Khas Sagu Dipatenkan |
|
|---|
| Peringati Hari Kartini, PDI Perjuangan SBT Dorong Hilirisasi Sagu Lewat Lomba Gulung Pepeda |
|
|---|
| SBT Dapat 200 Unit BSPS, Pemda Diminta Aktif Usulkan Data Warga |
|
|---|
| Program BSPS di Negeri Hote SBT Ditolak Kades, Tim Pendamping Pilih Alihkan ke Desa Lain |
|
|---|
| Efisiensi Rp117 Miliar, Bupati SBT Akui Banyak Program Pembangunan Tertunda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Nakertranssa.jpg)