Masyarakat Negeri Hitu Maluku Tengah Pawai Obor Sambut Malam 27 Ramadan

Masyarakat Desa Hitu, Maluku Tengah, menggelar tradisi pawai obor keliling kampung pada malam tujuh likur, atau malam ke-27 di bulan Ramadhan.

|
Penulis: Maula Pelu | Editor: Salama Picalouhata
Maula
Suasana pawai obor pada malam tujuh likur di Negeri Hitu, Kecamatan Leihitu Maluku Tengah, Minggu (7/4/2024). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Masyarakat Desa Hitu, Maluku Tengah, menggelar tradisi pawai obor keliling kampung pada malam tujuh likur, atau malam ke-27 di bulan Ramadhan.

Pawai obor ini diikuti ratusan warga Hitu, baik dari kalangan anak-anak, remaja hingga orang dewasa dengan antusias serta meriah.

Koordinator aksi pawai obor malam tujuh likur, Ai Nasela mengatakan tradisi ini sudah melekat sejak lama dan terus dijaga serta diwariskan oleh masyarakat desa.

Namun pada kali ini, tradisi tersebut diselenggarakan dengan elemen yang berbeda.

Sebagian peserta pawai memilih mengenakan atribut Palestina sebagai bentuk dukungan dan kesadaran terhadap apa yang sedang terjadi di Palestina saat ini.

"Apa yang kami lakukan kali ini adalah kali pertama kami menggelar pawai obor dengan mengenakan atribut Palestina," ungkap Ai Nasela saat ditemui TribunAmbon.com, Minggu (7/4/2024) dini hari. 

Dijelaskan, mereka mengenakan atribut Palestina tersebut dengan tujuan untuk menyampaikan pesan dan kampanye mengenai situasi di Palestina yang masih berlangsung hingga saat ini.

"Di sana terdapat masalah kemanusiaan yang terus berlanjut. Melalui pawai ini, kami ingin memberitahu masyarakat bahwa Palestina masih berada dalam kondisi darurat," jelasnya.

Dari Pantauan TribunAmbon.com, pawai obor dimulai pada pukul 23.00 WIT yang didominasi oleh kehadiran anak-anak dan remaja dari Negeri Hitu.

Setiap peserta membawa obor yang terbuat dari bilah bambu yang diisi dengan minyak tanah, untuk menjaga agar obor tetap menyala sepanjang perjalanan.

Dengan memanjatkan pujian kepada Tuhan, mereka mengelilingi desa Negeri Hitu.

Rute pawai dimulai dari jalan masuk utama perkampungan dan berjalan mengintari perkampungan sebelum kembali ke titik awal.

Meskipun perjalanan pawai cukup jauh, para peserta terlihat tetap gembira dan penuh semangat tanpa merasa lelah.

Tidak hanya peserta pawai obor, namun rumah-rumah warga Negeri Hitu juga ikut memasang obor di setiap sudut rumah mereka.

Tradisi ini dikenal dengan sebutan Malam 7 Likur dan selalu digelar setiap tahunnya untuk menyemarakkan 10 hari terakhir Ramadan.

Dimulai dari malam 21 Ramadhan yang berarti Satu Likur hingga mencapai malam puncak pada malam ke-27 Ramadhan, yang memiliki sebutan tujuh likur.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved