Ambon Hari Ini
Top 1 Asia dan Top 5 Global, PHD Crew Ambon Terkendala Biaya ke Amerika
Namun hingga saat ini keberangkatan ke Amerika masih menjadi tanda tanya besar karena membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Mesya Marasabessy
Ringkasan Berita:
- Ketua PHD Crew, Brian Manuhutu, mengatakan timnya berencana mengikuti World of Dance Summit yang akan berlangsung pada 7-10 Juli 2026 di Anaheim Convention Center, California, Amerika Serikat.
- Kesempatan itu terbuka setelah mereka mencatatkan prestasi luar biasa sebagai Top 5 Global World of Dance.
- Namun hingga saat ini keberangkatan ke Amerika masih menjadi tanda tanya besar karena membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Mimpi besar kini berada di depan mata para penari muda People Halong Dance (PHD) Crew asal Kota Ambon.
Setelah berhasil menembus posisi Top 5 Global dan Top 1 Asia dalam ajang World of Dance (WOD) 2026.
Kelompok dance yang lahir dari kawasan Halong Atas itu berpeluang tampil di panggung internasional di Amerika Serikat.
Namun di balik prestasi membanggakan yang mengharumkan nama Ambon dan Indonesia tersebut, tersimpan persoalan klasik yang hingga kini masih menjadi tantangan terbesar mereka, yakni keterbatasan biaya.
Ketua PHD Crew, Brian Manuhutu, mengatakan timnya berencana mengikuti World of Dance Summit yang akan berlangsung pada 7-10 Juli 2026 di Anaheim Convention Center, California, Amerika Serikat.
Kesempatan itu terbuka setelah mereka mencatatkan prestasi luar biasa sebagai Top 5 Global World of Dance.
Namun hingga saat ini keberangkatan ke Amerika masih menjadi tanda tanya besar karena membutuhkan dana yang tidak sedikit.
"Kami sangat ingin berangkat mengikuti World of Dance Summit di Amerika Serikat. Tapi sampai sekarang kendala utama kami tetap soal biaya," kata Brian kepada TribunAmbon.com, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Ditangkap Bawa Sabu Saat Melintas di Durian Patah, Mahasiswa Ini Ngaku Baru Pertama Kali Beli
Baca juga: Jadi Simbol Nilai Luhur, Kementerian ATR/BPN Upacara Hari Lahir Pancasila
Bagi sebagian orang, capaian Top 5 Global mungkin terlihat sebagai hasil yang datang secara instan.
Namun bagi PHD Crew, prestasi tersebut merupakan buah dari perjalanan panjang selama lebih dari satu dekade yang penuh perjuangan.
PHD Crew resmi dibentuk pada 14 Desember 2012 di Kota Ambon oleh Marco Harold Uktolseja.
Awalnya, kelompok tersebut hanya dibentuk untuk mengisi berbagai kegiatan kerohanian dan perayaan Natal.
"Awal kami terbentuk sebenarnya hanya untuk mengisi acara-acara kerohanian dan Natal. Tidak pernah menyangka bisa sampai di titik ini," ujar Brian.
Brian mengaku baru bergabung bersama komunitas ini pada 2013.
Setelah dipimpin Marco sebagai ketua pertama, tongkat estafet kepemimpinan kemudian diserahkan kepadanya hingga saat ini. Sementara Marco kini berperan sebagai pembina.
Selama 13 tahun perjalanan, PHD Crew telah melakukan empat kali rekrutmen dan kini memiliki 31 anggota aktif yang berasal dari berbagai wilayah di Kota Ambon.
Di balik konsistensi tersebut, berbagai tantangan terus menghampiri. Pergantian anggota menjadi salah satu masalah yang kerap mereka hadapi.
"Kami sering mengalami persoalan internal seperti anggota yang keluar masuk. Tapi kami terus berusaha bertahan dan berkembang," katanya.
Bukan hanya itu, keterbatasan finansial juga menjadi cerita yang tak terpisahkan dari perjalanan mereka.
Untuk membiayai kebutuhan latihan hingga mengikuti kompetisi, para anggota harus mencari dana secara mandiri.
Mereka menggelar bazar, menjual makanan, hingga tampil menari di berbagai tempat untuk mendapatkan sumbangan.
"Kami pernah jual bazar ayam dan berbagai makanan. Kami juga tampil dance untuk mencari sumbangan. Istilahnya kami mengamen," ungkap Brian.
Bahkan, kata dia, pernah ada momen ketika mereka hanya menerima bayaran Rp300 ribu setelah tampil menari seharian penuh.
"Nilainya memang kecil, tapi itu tidak pernah menurunkan semangat kami untuk terus maju," ujarnya.
Semangat pantang menyerah itu juga terlihat dalam proses persiapan menuju World of Dance 2026.
Alih-alih menggunakan kostum mahal, para anggota justru membuat sendiri kostum yang mereka kenakan saat tampil di kompetisi internasional tersebut.
Mereka memesan bahan pakaian, lalu memodifikasinya secara manual agar sesuai dengan konsep pertunjukan yang diusung.
"Kostum itu kami buat sendiri. Baju yang sudah jadi kami gunting lalu dijahit ulang sesuai desain yang kami inginkan," kata Brian.
Dua anggota tim, Georgia Esperanza Claudya dan Henny Nova Yuliana Reimialy, bahkan harus menjahit secara manual selama tiga hari berturut-turut.
"Mereka sampai tidak tidur demi menyelesaikan kostum yang akan dipakai saat tampil," ujarnya.
Perjuangan panjang tersebut perlahan membuahkan hasil.
Sebelum menembus Top 5 Global, PHD Crew telah beberapa kali mengukir prestasi di tingkat nasional.
Pada 2016 mereka mengikuti ajang Dance Icon dalam program Inbox SCTV di Jakarta dan berhasil mencapai babak final weekly.
Tiga tahun kemudian, mereka meraih Juara II dalam Hip Hop International Indonesia 2019 di Jakarta.
Prestasi kembali berlanjut saat mereka meraih Juara III dalam kompetisi Eat'DBeat 2022 di Bandung.
Kemudian pada World of Dance Indonesia 2024 di Bali, PHD Crew berhasil menempati posisi kelima nasional dan memperoleh wild card untuk tampil di Amerika Serikat.
Sayangnya, kesempatan emas tersebut gagal dimanfaatkan karena keterbatasan dana.
"Kami sebenarnya sudah mendapat wild card ke Amerika pada 2024, tetapi tidak bisa berangkat karena biaya," tutur Brian.
Pengalaman itulah yang menjadi motivasi besar bagi seluruh anggota untuk bangkit dan membuktikan kualitas mereka pada World of Dance 2026.
Hasilnya, PHD Crew sukses meraih skor 96,35 poin dan menempatkan diri sebagai Top 1 Asia sekaligus Top 5 Global.
Kini, peluang tampil di panggung dunia kembali terbuka.
Dengan struktur organisasi yang dipimpin Brian Manuhutu sebagai ketua, Georgia Esperanza Claudya sebagai sekretaris, Michello Steve Likumahwa sebagai bendahara, serta Marco Harold Uktolseja sebagai pengawas, PHD Crew berharap mendapat dukungan berbagai pihak agar bisa mewujudkan mimpi tampil di Amerika Serikat.
Saat ini mereka bahkan belum memiliki basecamp yang memadai untuk berlatih secara rutin. Sebagian anggota masih berstatus mahasiswa, sementara lainnya telah bekerja.
"Kami tidak punya jadwal latihan tetap karena belum ada tempat latihan yang memadai dan semua anggota juga punya kesibukan masing-masing. Biasanya kalau ada event baru kami fokus latihan secara rutin," kata Brian.
Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak menghalangi mereka untuk terus berprestasi.
Keberhasilan menembus Top 5 Global World of Dance menjadi bukti bahwa talenta muda Ambon mampu bersaing dengan tim-tim terbaik dunia.
Kini, satu harapan besar sedang mereka perjuangkan: membawa nama Ambon dan Indonesia tampil langsung di panggung World of Dance Summit 2026 di Amerika Serikat.
Jika dukungan dan pendanaan tersedia, mimpi yang selama ini hanya berada di kejauhan akhirnya bisa menjadi kenyataan.(*)
| Eten Latul Bantah Terima Uang, Tapi Bukti Transfer Jelas Tertulis Namanya |
|
|---|
| Belum Diresmikan, TPS Baru di Batu Merah Ambon Ludes Terbakar, DLHP Kecam Pelaku |
|
|---|
| Beli Sabu Rp500 Ribu, Mahasiswa 22 Tahun Diciduk Polisi di Hunuth |
|
|---|
| Upacara Hari Pancasila 2026, Kapolda Maluku Beri Penghargaan untuk Personel dan Satker Berprestasi |
|
|---|
| Eten Latul Bantah Terima Transfer Rp3 Juta, Sebut Bukti yang Dipegang Korban Hasil Editan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/PHD-Crew-Amerika.jpg)