Maluku Terkini
Ratusan Paket MBG Diduga Dibawa Pulang Guru, Siswa SMA Angkasa Pattimura Protes
Ratusan paket makanan yang seharusnya menjadi hak siswa diduga tidak diterima oleh penerima utama.
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Fandi Wattimena
Ringkasan Berita:
- Siswa SMA Angkasa Pattimura ngeluh tidak kebagian paket MBG.
- Ia menduga paket makanan tersebut dibungkus oleh oknum guru untuk dibawa pulang, sehingga siswa tidak mendapatkan jatah.
- Kepala SMA Angkasa Pattimura, Sofia de’Lima, memberikan klarifikasi terkait peristiwa tersebut.
- Ia menjelaskan bahwa pada Rabu (22/4/2026), siswa memang tidak masuk sekolah.
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Sejumlah siswa kelas 12 SMA Angkasa Pattimura menyampaikan keluhan terkait pembagian program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah mereka.
Ratusan paket makanan yang seharusnya menjadi hak siswa diduga tidak diterima oleh penerima utama.
Para siswa mencurigai paket tersebut justru dibawa pulang oleh guru pada Rabu (22/4/2026).
Salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, setiap hari terdapat sekitar 230 paket MBG yang dikirim ke sekolah. Namun, saat siswa datang, makanan tersebut sudah tidak tersedia.
“Setiap hari ada sekitar 230 ompreng MBG, tapi saat kami datang ke sekolah, semuanya sudah habis. Ini bukan baru sekali terjadi,” ujarnya.
Ia menduga paket makanan tersebut dibungkus oleh oknum guru untuk dibawa pulang, sehingga siswa tidak mendapatkan jatah.
“Kami menduga MBG itu dibungkus oleh guru-guru untuk dibawa pulang,” katanya.
Baca juga: Begini Respon Inspektorat Maluku Tengah Soal Temuan Audit Dana Hibah oleh BPK
Baca juga: Kasus Sianida Bakal Dibahas di DPRD Maluku, Kapolda Akan Dihadirkan
Kondisi ini memicu kekecewaan di kalangan siswa kelas 12, terlebih saat mereka tetap diwajibkan hadir ke sekolah, sementara siswa kelas lain sedang diliburkan.
“Kami datang ke sekolah untuk mendapatkan MBG. Tapi kenyataannya tidak ada,” ungkapnya.
Para siswa menilai distribusi MBG tidak transparan dan tidak memprioritaskan siswa sebagai penerima manfaat utama.
“Kenapa guru bisa datang ambil, tapi siswa tidak bisa? Padahal kami semua tinggal di sekitar sekolah,” ujarnya.
Selain itu, siswa juga mengaku saat pembelajaran daring dari rumah, namun MBG tetap didistribusikan ke sekolah.
“Kami pernah disuruh belajar online, tapi MBG tetap datang ke sekolah. Kami tidak dapat apa-apa,” katanya.
Para siswa menegaskan bahwa mereka tidak mempermasalahkan pihak penyedia MBG (SPPG), melainkan kebijakan internal sekolah dalam mengelola dan menyalurkan bantuan tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/MBG-Omprengku.jpg)