Malteng Hari Ini

Stok Beras Bulog di Malteng Tersedia 300 Ton

Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) memiliki persediaan beras sebanyak 300 ton di Gudang Bulog Kobi.

Humas Pemda Malteng
SAMBANGI GUDANG BULOG - Wakil Bupati Maluku Tengah menyambangi Gudang Bulog Kobi, Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, 20 Juni 2025 lalu. 

Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 

‎MASOHI, TRIBUNAMBON.COM - Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) memiliki persediaan beras sebanyak 300 ton di Gudang Bulog Kobi. 

‎Demikian informasi yang disampaikan Kepala Bulog Kobi Kecamatan Seram Utara Timur Kobi, Akbar Rafsanjani Laisouw, kepada TribunAmbon.com di Seram Utara, Sabtu (28/6/2025).

‎”Ada 300 ton lebih (persediaan beras), pengadaan dari Kecamatan Seram Utara Utara Timur Kobi dan Kecamatan Seram Utara Timur Seti," ujarnya. 

Baca juga: Rutan Ambon Peringati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah

‎Ia menjelaskan, panen terakhir petani di akhir tahun 2024, sementara Bulog  menyerap gabah petani per Januari  sampai Februari 2025. 

‎‎"Kami serap gabah petani perkiraannya di bulan itu," tuturnya. 

‎Meski begitu, saat ini Bulog sementara mengehentikan pengiriman beras keluar daerah lantaran menunggu izin dari pemerintah. 

‎‎"Sampai sekarang belum ada (pengiriman) masih tunggu izin penyaluran (dari pemerintah)," ungkap Akbar. 

Baca juga: Gerakan Pangan Murah Kota Tual, Rahantan Berharap Sentuh Wilayah Kepulauan 

‎Ia mengaku, pemberhentian penyaluran atau penutupan penyaluran oleh pemerintah dilakukan sejak April 2025. 

‎Menanggapi naiknya harga beras Bulog Rp 16 ribu per kilo di pusat ibu kota Maluku Tengah, Masohi, Akbar menyebut barangkali itu Bulog premium.

‎‎"Kalau premium mahal, mungkin sementara beras Bulog yang beredar di pasar beras premium, yang mana dilihat dari kualitasnya," tukas Akbar. 

‎Selain itu, penyaluran beras bulog ke mitra-mitra, dan tersebar di Kabupaten Maluku Tengah

‎‎"Penyerapan gabah dari petani, dimana harga sesuai HET yaitu Rp 6.500 per kilo gabah GKP (Gabah Kering Panen)," terangnya. 

‎Meski begitu, ia mengatakan bahwa tidak ada komplen harga dari petani.

‎‎"Malah mereka bersyukur dengan standar harga pemerintah," pungkas Akbar. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved