Kamis, 28 Mei 2026

Maluku Terkini

BPS 2025: Nilai Tukar Petani di Maluku Turun 0,94 Persen, Subsektor Perikanan Meningkat 2,28 Persen

Dihadapan Sekda Maluku, Sadali Ie, sejumlah stakeholder dan awak media, Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia menjelaskan, penurunan NTP

Tayang:
Penulis: Maula Pelu | Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/ Maula Pelu
INFLASI MALUKU - Sekda Maluku, Sadali Ie dan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia, saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS), di Aula kantor BPS Provinsi Maluku yang beralamat di jalan Wolter Monginsidi, Senin (3/3/2025). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Maula M Pelu

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2025 tercatat sebesar 101,95 atau turun 0,94 persen dibanding Januari 2025 sebesar 102,92. 

Angka itu berdasarkan hasil pemantauan harga perdesaan di 42 kecamatan di Provinsi Maluku. 

Dihadapan Sekda Maluku, Sadali Ie, sejumlah stakeholder dan awak media, Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaellapia menjelaskan, penurunan NTP disebabkan oleh indeks harga hasil produksi pertanian (It) yang tercatat naik sebesar 0,22 persen, lebih rendah dari peningkatan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang tercatat sebesar 1,17 persen.

“Pada Februari 2025 Provinsi Maluku berada di urutan ke-34 dari 38 provinsi dengan NTP sebesar 101,95. NTP tertinggi terjadi di Provinsi Bengkulu sebesar 203,93, sementara NTP terendah terjadi di Provinsi Papua Pegunungan sebesar 100,09,” ungkap Pattiwaellapia saat peluncuran Berita Resmi Statistik (BRS), di Aula kantor BPS Provinsi Maluku, jalan Wolter Monginsidi, Desa Passo, Kota Ambon, Senin (3/3/2025). 

Lanjutnya, subsektor yang mengalami penurunan yakni tanaman pangan, hortikuktura, subsektor tanaman perkebunan rakyat dan subsektor peternakan.

Dengan presentasi untuk tanaman pangan (-0,49 persen). Hal ini terjadi karena It mengalami peningkatan sebesar 0,35 persen, lebih rendah dari peningkatan Ib yang sebesar 0,84 persen.

Baca juga: BPS: Maluku Inflasi 1,33 Persen Pada Februari 2025, Restoran dan Kesehatan Penyumbang Tertinggi

Baca juga: Sebelum Curi Alat Kesehatan, Tiga Petugas RSUD Masohi Pesta Miras di Kamar Jenazah 

“Peningkatan It pada Februari 2025 disebabkan oleh naiknya indeks pada salah satu kelompok penyusun NTPP yaitu kelompok palawija (khususnya komoditas talas, ketela rambat, ketela pohon, dan jagung) yang tercatat sebesar 0,56 persen. Sementara pada kelompok padi tidak mengalami perubahan harga,” sebut Pattiwaellapia. 

Subsektor hortikuktura mengalami penurunan (-4,86 persen). Hal ini terjadi karena It mengalami penurunan sebesar 3,73 persen sedangkan Ib mengalami peningkatan sebesar 1,18 persen.

Penurunan It pada Februari 2025 disebabkan oleh menurunnya It pada dua kelompok penyusun NTPH yaitu kelompok sayur-sayuran (khususnya komoditas cabai rawit, cabai merah, terung, buncis, kangkung, kol/kubis, pare/paria dan cabai hijau) sebesar 4,65 persen dan kelompok buah- buahan (khususnya jeruk, pisang, rambutan, mangga, salak dan pepaya) sebesar 1,56 persen. 

Untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR) sebesar (-0,68 persen). Penurunan NTPR tersebut dipicu oleh peningkatan pada Ib sebesar 1,60 persen, yang lebih tinggi dibandingkan peningkantan pada Ib hanya sebesar 0,91 persen.

Peningkatan It pada Februari 2025 disebabkan oleh meningkatnya indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat (khususnya komoditas cengkeh, pala biji, kelapa dan karet) yang tercatat sebesar 0,91 persen.

Peningkatan yang terjadi pada Ib disebabkan oleh meningkatnya Indeks Konsumsi Rumah tangga (IKRT) sebesar 1,68 persen dan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal yang tidak mengalami perubahan.

Terakhir, untuk subsektor peternakan mengalami penurunan (-0,85 persen). Hal ini terjadi karena It mengalami peningkatan sebesar 0,06 persen, lebih rendah dari peningkatan Ib yang sebesar 0,91 persen.

Peningkatan It pada Februari 2025 disebabkan oleh meningkatnya harga komoditas pada dua kelompok penyusun subsektor peternakan, yaitu kelompok unggas (khususnya komoditas ayam kampung/buras dan itik/bebek) sebesar 1,08 persen, dan kelompok hasil ternak (khususnya komoditas telur ayam kampung/buras) sebesar 1,54 persen. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved