Rabu, 8 April 2026

Waragonda Terbakar

PT. Waragonda Bantah Tudingan Pengrusakan Sasi Adat

Bantahan itu disampaikan Direktur PT. WMP, Muammar Kadafi Tehuayo saat melangsungkan konferensi pers di Masohi, Selasa (18/2/2025).

|
TribunAmbon.com/ Jenderal Louis
KONFERENSI PERS - Pimpinan PT. Waragonda Minerals Pratama (WMP) melakukan konferensi pers di Masohi, Selasa (18/2/2025). Konferensi pers itu, PT. WMP membantah insiden pembakaran perusahaan akibat pengrusakan sasi adat oleh karyawan. 

Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Silmi Sirati Suailo 

MASOHI, TRIBUNAMBON.COM - PT. Waragonda Minerals Pratama (WMP) membantah tudingan pengrusakan sasi adat oleh karyawannya. 

Bantahan itu disampaikan Direktur PT. WMP, Muammar Kadafi Tehuayo saat melangsungkan konferensi pers di Masohi, Selasa (18/2/2025).

"Kami tidak pernah menyampaikan hal-hal yang memprovokasi warga, kemudian ada informasi bahwa sasi telah dibongkar itu tidak benar," ujar Qadafi yang didampingi Direktur Utama, Amin Soufa. 

Ia menyayangkan tudingan yang beredar, sehingga mengakibatkan terjadi penyerangan di perusahaan. 

"Katanya kami PT. Waragonda tidak menghargai itu (sasi adat) makanya masyarakat datang menyerang perusahaan. Dari video CCTV kami, tidak ada pengrusakan nyatanya saat penyerangan sasi masih utuh," terang Tehuayo. 

Jadi kata dia sambil menunjukkan bukti video sasi roboh karena masa melakukan penyerangan. 

"Ketika kejadian saya di Masohi, dan ketika dengar informasi saya meminta rekan-rekan karyawan untuk menghindar. Terus saya tekan kepada karyawan disana bahwa jangan sampai ada tindak anarki atau melawan," ujarnya.

Hal tersebut dilakukan untuk menghindar agar tidak ada korban. Ia juga mengaku tidak ada konfirmasi dari masyarakat saat itu, masa berdatangan dan melakukan tindakan anarkis. 

Baca juga: Tanggapi Demo Mahasiswa Terkait Kasus Mauren Vivian, Dirkrimsus: Percayakan Kami

Baca juga: Fasilitas Dibakar, PT. Waragonda di Desa Haya - Maluku Tengah Merugi Hingga Rp. 4,5 Miliar

"Perihal aksi-aksi sebelumnya, dikarenakan isu yang berkembang berkaitan dengan masalah abrasi sampai ke lahan kuburan. Perlu saya konfirmasi bahwa daerah kuburan bukanlah area pengambilan pasir oleh masyarakat," tuturnya. 

Pasir disitu diambil sambung dia, untuk pembuatan bata press guna pembangunan rumah warga. 

"Jadi pada saat ombak lalu tulang-tulang keluar, masyarakat menganggap bahwa itulah dampak dari kegiatan PT. Waragonda," pungkasnya. 

Disampaikan, saat ini pihaknya juga tengah menempuh jalur hukum.

Ia juga menyinggung soal izin perusahaan, dimana perusahaan masuk ke Desa Haya atas komunikasi dengan bapak Raja Hasan, dan telah mendapat persetujuan dari Raja karena itu adalah surat izin usaha. 

Ditanya perihal operasional perusahaan kedepan, Tehuayo mengaku perusahaan masih dalam proses perbaikan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved