Maluku Terkini
Kasus HIV/AIDS di Maluku Tenggara Bertambah, Ini Upaya Dinkes Tekan Penyebarannya
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Muhsin Rahayaan mengungkapkan terus berupaya menekan angka penularan HIV dan AIDS.
Penulis: Megarivera Renyaan | Editor: Salama Picalouhata
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Megarivera Renyaan
LANGGUR, TRIBUNAMBON.COM - Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), Muhsin Rahayaan mengungkapkan terus berupaya menekan angka penularan HIV dan AIDS.
Hal tersebut dikemukakan menyusul kasus penularan virus HIV dan AIDS di Malra yang menempati urutan tertinggi ke dua di Provinsi Maluku.
"Kami terus melakukan pemeriksaan rutin setiap tiga bulan pada kelompok sasaran untuk menekan angka penularannya," ucapnya, Selasa (28/1/2025).
Rahayaan menuturkan, Pemeriksaan rutin dilakukan di berbagai tempat, termasuk puskesmas, sekolah, hingga tempat hiburan seperti karaoke.
Jika ditemukan kasus positif HIV/AIDS di tempat hiburan, lanjutnya pemilik tempat tersebut diberi informasi untuk melakukan tindakan pencegahan.
"Kami memberikan edukasi tentang pencegahan HIV dan melakukan pemeriksaan pada kelompok berisiko seperti ibu hamil, pekerja seks, dan lainnya," kata Rahayaan.
Menurut Rahayaan, jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS di Malra dari tahun 1994 hingga 2024 mencapai 1.019 kasus, yang terdiri dari 912 kasus HIV dan 107 kasus AIDS. Data ini menunjukkan tingginya prevalensi penyakit tersebut, yang terus menjadi perhatian serius di wilayah ini.
Sejak tahun 2009, tercatat 383 kematian akibat HIV/AIDS di Kabupaten Maluku Tenggara, dengan rincian 131 laki-laki dan 252 perempuan. Angka kematian tersebut menggambarkan dampak signifikan yang ditimbulkan oleh penyakit ini, baik pada individu maupun masyarakat secara keseluruhan.
Dinkes Malra juga memberikan perhatian khusus pada pasien ODHIV (Orang Dengan HIV) dengan menyediakan pengobatan Antiretroviral (ARV) dan pendampingan bagi mereka yang putus berobat.
Selain itu layanan pemeriksaan viral load juga dilakukan untuk memantau perkembangan kondisi ODHIV yang telah menjalani pengobatan selama enam bulan.
"Kami juga mengadakan pelatihan bagi tenaga medis yang terlatih dalam menangani HIV," ucapnya menambahkan.
Rahayaan mengaku, salah satu masalah besar yang dihadapi adalah dampak HIV pada anak-anak. Pasalnya ada beberapa anak yang mengalami stunting juga terinfeksi HIV akibat penyakit penyerta seperti tuberkulosis (TB) yang ditularkan dari orang tua mereka.
Hal ini menjadi perhatian khusus, karena anak-anak dengan HIV memiliki risiko stunting yang lebih tinggi dan tidak dapat sepenuhnya dipulihkan. Pemeriksaan rutin untuk mendeteksi HIV pada anak-anak pun terus dilakukan di fasilitas kesehatan setempat.
"Kami akan terus berupaya untuk mengurangi dampak HIV pada anak-anak dan memberikan perawatan terbaik untuk mereka yang terinfeksi," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/Kepala-BKSDM-Malra-Rahayaan.jpg)