Senin, 11 Mei 2026

Info Kesehatan

Simak 7 Penyakit Akibat Tikus, Bahaya Komplikasi hingga Kematian

Bukan cuma karena sering masuk rumah dan merusak barang-barang, hewan pengerat ini juga bisa menjadi sumber berbagai penyakit.

Tayang:
Penulis: Jenderal Louis MR | Editor: Fandi Wattimena
TribunAmbon.com/ Jenderal Louis
TPS jadi sarang tikus 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Tikus memang sering membawa masalah bagi kehidupan manusia. 

Bukan cuma karena sering masuk rumah dan merusak barang-barang, hewan pengerat ini juga bisa menjadi sumber berbagai penyakit.

Penyakit yang ditularkan tikus dapat menimbulkan gejala yang amat mengganggu, bahkan dapat berujung pada terjadinya komplikasi mematikan.

Di negara kita sendiri, setidaknya ada tiga jenis tikus yang biasanya berkeliaran di sekitar rumah. 

Mulai dari tikus got (Rattus norvegicus), tikus rumah atau tikus atap (Rattus rattus), hingga mencit rumah (mus musculus). 

Ingat, jangan main-main dengan hewan pengerat ini, alasannya simpel, tikus bisa menyebabkan banyak penyakit yang berujung fatal bahkan kematian.

Dilansir dari laman kesehatan alodokter.com, berikut ini adalah beberapa jenis penyakit yang dapat disebabkan oleh tikus:

1. Alergi dan asma
Kotoran tikus bisa menjadi alergen yang dapat memicu reaksi alergi dan asma. Hal ini dapat terjadi khususnya pada anak-anak atau bayi yang sering merangkak atau bermain di lantai yang telah terkontaminasi. Oleh karena itu, penting untuk mengusir tikus agar mengurangi risiko anak-anak atau bayi terkena penyakit akibat kotoran tikus.

2. Salmonellosis atau infeksi bakteri Salmonella
Selain disebabkan oleh makanan yang tidak diolah dengan baik, bakteri Salmonella juga dapat ditularkan melalui hewan dan salah satunya adalah tikus. Penyakit ini bisa menimbulkan gejala berupa mual, muntah, diare, sakit perut, demam, menggigil, sakit kepala, atau buang air besar berdarah.

3. Leptospirosis
Tidak mengusir tikus juga bisa menyebabkan leptospirosis. Kondisi ini disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan perantara hewan, seperti tikus. Leptospirosis juga dapat menimbulkan gejala ringan, seperti sakit kepala, demam, kehilangan nafsu makan, menggigil, dan nyeri otot.

Namun, ada pula gejala yang parah dan bisa mengancam nyawa, seperti batuk darah, nyeri dada, penyakit kuning, pembengkakan tangan atau kaki, dan sesak napas.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, penyakit leptospirosis dapat berkembang menjadi kondisi yang fatal dan berdampak pada kerusakan ginjal hingga sepsis.

4. Virus hanta
Penyakit ini disebabkan virus hanta atau hantavirus. Virus hanta dapat menimbulkan gejala awal berupa demam, kelelahan, nyeri otot, menggigil, mual, muntah, diare, sakit kepala, pusing, atau sakit perut. Setelah beberapa hari, Anda akan mengalami batuk dan sesak napas.

Bila tidak segera ditangani, penderita hantavirus dapat mengalami gangguan fungsi paru-paru dan kerusakan ginjal.

5. Penyakit pes
Penyakit pes atau sampar disebabkan oleh gigitan kutu yang telah mengisap darah tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis.

Penyakit ini bisa terjadi dalam tiga bentuk, yaitu pes yang menyerang kulit dan kelenjar getah bening (bubonic plague), pes pada paru-paru (pneumonic plague), dan pes yang menyerang darah (septicemic plague).

Baca juga: Nobar di Ambon, Martison Siritoitet Ungkap Makna Film Mentawai: Soul of the Forest

6. Tularemia
Penyakit tularemia juga bisa terjadi akibat tidak mengusir tikus dari rumah. Penyakit ini sering disebabkan oleh hewan pengerat, seperti kelinci dan tikus. Orang yang terjangkit penyakit ini biasanya akan merasakan gejalanya kurang lebih 3–5 hari setelah terpapar.

Tanda dan gejala yang kerap terjadi adalah borok pada kulit, demam, batuk, menggigil, kelelahan, sakit kepala, diare, muntah, dan sakit tenggorokan.

Rat Bite Fever
Demam gigitan tikus atau rat bite fever bisa terjadi karena tikus dapat mentransfer dua jenis bakteri berbahaya, yaitu Streptobacillus moniliformis (banyak di Amerika Utara) dan Spirillum minus (banyak di Asia).

Penyebaran penyakit ini tak melulu akibat gigitan tikus, tapi juga melalui cakaran hewan pengerat tersebut.

Selain itu, demam gigitan tikus juga bisa terjadi saat Anda membuang bangkai tikus, yang biasanya masih mengandung bakteri berbahaya.

Anda pun bisa terkena demam gigitan tikus apabila mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi kotoran atau urine hewan pengerat pembawa bakteri tersebut.

Seseorang yang telah mengalami demam gigitan tikus akan mengalami gejala yang berbeda-beda, tergantung dari bakteri yang menginfeksinya.

Dalam kasus demam gigitan tikus akibat bakteri Streptobacillus moniliformis, gejalanya adalah demam, muntah, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi atau bengkak, hingga ruam kemerahan.

Gejala demam gigitan tikus akibat bakteri Streptobacillus moniliformis biasanya muncul setelah 3 hingga 10 hari.

Tak menutup kemungkinan, gejala-gejala tersebut baru terjadi pada tiga minggu setelah berkontak dengan bakteri.

Sementara itu, demam gigitan tikus akibat bakteri Spirillum minus di antaranya; Demam yang hilang dan timbul, Pembengkakan atau pembentukan ulkus pada luka gigitan, Kelenjar getah bening yang membengkak, Ruam kemerahan yang dapat muncul di seluruh tubuh atau hanya di dekat area luka gigitan.

Gejala demam gigitan tikus akibat bakteri Spirillum minus biasanya muncul setelah 7 hingga 21 hari berkontak dengan tikus.

Meski gejalanya berbeda, keduanya mesti segera diberikan pengobatan. 

Jika dibiarkan terjadi berlarut-larut, salah satu komplikasi yang bisa dialami adalah kematian. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved