Hari Kebangkitan Nasional
Sejarah Hari Kebangkitan Nasional yang Diperingati Setiap 20 Mei
Sejarah peringatan Hari Kebangkitan Nasional pertama kali dilakukan pada era Presiden Soekarno pada tanggal 20 Mei 1948 di Istana Kepresidenan di Yogy
Budi Utomo yang didirikan oleh dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA lahir sebagai sebuah organisasi pelajar yang bersifat sosial, ekonomi, kebudayaan, serta tidak bersifat politik.
Meskipun Budi Utomo tidak langsung terjun ke bidang politik, namun ide dan semangat anggotanya telah menjadi pemantik gerakan yang juga menginginkan untuk segera melepaskan bangsa Indonesia penjajahan.
Terbukti dengan munculnya organisasi-organisasi lain baik di tingkat daerah maupun nasional yang sama-sama berjuang untuk mencapai kemerdekaan.
Hal ini yang kemudian membuat Budi Utomo dianggap telah memulai sebuah gerakan penting dengan membangkitkan semangat nasional untuk memperjuangkan status bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang merdeka.
Tokoh Kebangkitan Nasional Hari Kebangkitan Nasional juga digunakan sebagai momentum untuk mengenang jasa para pendahulu yang telah berjasa bagi bangsa ini.
• Mulai Masuk Musim Hujan, Warga Maluku Harus Tahu Cara Cepat Keringkan Baju, Tetap Wangi & Bersih
Sejumlah tokoh penting diketahui memiliki peran penting, terutama pada masa-masa awal awal pergerakan nasional Indonesia.
1. dr. Wahidin Soedirohusodo
Sosok dr. Wahidin Soedirohusodo dikenal sebagai penggagas Budi Utomo. Bersama dr. Soetomo, mereka kemudian sepakat membuat sebuah organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan serta menyadarkan masyarakat mengenai martabat bangsanya.
2. dr. Soetomo
Sosok dr. Soetomo dikenal sebagai pendiri Budi Utomo sekaligus pemimpin organisasi tersebut.
Sebagai mahasiswa STOVIA, dr. Soetomo tergugah dengan gagasan untuk memperjuangkan hak bangsa Indonesia, yakni mencapai kemerdekaan.
Bersama dr. Wahidin Soedirohusodo dan para mahasiswa STOVIA, dr. Soetomo mulai menyebarkan dan mengembangkan gagasan tersebut.
3. HOS Tjokroaminoto
HOS Tjokroaminoto adalah salah satu pelopor gerakan serikat buruh di Indonesia dan turut gencar mencetuskan ide-ide politik hingga dianggap sebagai ancaman oleh Belanda.
Ia bergabung dalam organisasi Sarekat Islam (SI) yang di bawah kepemimpinannya, SI tumbuh menjadi organisasi yang besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/2052024-Harkitnas.jpg)