Ancaman Perubahan Iklim
1.450 Pulau di Maluku Terancam Tenggelam, Ini Alasannya
sebanyak 2000 pulau di Indonesia terancam tenggelam pada tahun 2050, atau tepatnya 30 tahun lagi.
Penulis: Mesya Marasabessy | Editor: Salama Picalouhata
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Mesya Marasabessy
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Direktur Yayasan Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad mengatakan, sebanyak 2000 pulau di Indonesia terancam tenggelam pada tahun 2050, atau tepatnya 30 tahun lagi.
Dari 2000 pulau di Indonesia, 1.450 diantaranya ada di Maluku.
“Nanti di tahun 2050 itu diperkirakan akan ada 2000 pulau kecil di Indonesia termasuk di Maluku terancam tenggelam,” kata Nadia kepada wartawan disela-sela festival Maluku Arika Kalesang Bumi, Senin (20/2/2023).
Menurutnya, ancaman itu lantaran adanya perubahan iklim yang terjadi.
Dimana, kenaikan suhu yang menyebabkan mencairnya es pada dataran kutub-kutub bumi bisa membuat peningkatan permukaan air laut dan menenggelamkan pulau-pulau kecil.
Selain itu, peningkatan permukaan air laut dapat menyebabkan bergesernya batas daratan di daerah pesisir yang kemudian menenggelamkan sebagian daerah pesisir atau pemukiman di daerah pesisir.
“Memang krisis iklim ini, kalau misalnya kita tidak mencegah, maka risikonya pasti akan dirasakan,” ungkapnya.
Menurutnya, masyarakat sekitar pesisir di daerah kepulauan Maluku akan sangat rentan menjadi korban dari dampak emisi tersebut.
“Masyarakat Maluku, 95 persennya itu masyrakat pesisir. Jadi memang penghidupan dan kesejahteraan ini sangat tergantung dari bagaimana kita bisa mengatasi ketahanan terhadap perubahan iklim di bumi sekarang,”. ujarnya.
Untuk mencegah hal itu terjadi, Nadia mendorong masyarakat terus melakukan aksi mitigasi untuk mencegah terjadinya pelepasan emisi besar dan pemanasan global.
“Kita harus ada banyak program adaptasi di mana kita lebih tangguh untuk bisa menghadapi dampak dari perubahan iklim itu. Kalau misalnya terjadi perubahan pergeseran arus laut, banyak terjadi abrasi, perubahan musim tak menentu, bumi kita dalam bahaya,” katanya.
Ia meminta seluruh masyarakat agar bersama-sama berkontribusi dalam mencegah krisis iklim ini agar tidak semakin parah, dengan menghemat energi serta dapat mendaur ulang barang bekas.
“Mari kita bersama-sama bahu-membahu mencari solusi, agar lebih tangguh, dan lebih efektif dalam menghadapi tantangan serta ancaman yang kita hadapi sekarang. Lebih tingkatkan kesadaran, jaga hutan dan lingkungan kita, karena bencana longsor serta banjir yang sering terjadi itu juga bagian dari perubahan iklim,” tandas Nadia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/direktur-yayasan-madina-berkelanjutan-nadia-hadad.jpg)