Breaking News:

Ambon Hari Ini

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Ambon Meningkat, Paling Banyak Terjadi Dalam Rumah Tangga

Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Ambon menunjukan tren peningkatan.

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Ambon menunjukan tren peningkatan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Masyarakat dan Desa (DP3AMD) Kota Ambon, Meggy Lekatompessy mengatakan berdasarkan laporan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak kian meningkat, terhitung dari tahun 2017 hingga 2022.

Dia menjelaskan, dari data yang diperoleh, khusus untuk kekerasan prempuan, pada tahun 2017 terdapat 13 kasus, jumlah itu naik pada tahun 2018 menjadi 34 kasus.

Kemudian, pada tahun 2019 kasus kekerasan itu naik menjadi 40 kasus dan pada tahun 2020 naik lagi menjadi 55 kasus.

Selanjutnya, pada tahun 2021 kasus kekerasan terhadap perempuan naik menjadi 59 kasus.

“Sedangkan pada tahun 2022 sampai tercatat dari Januar-Mei itu ada 21 kasus kekerasan perempuan yang ditangani,” katanya.

Baca juga: Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Ambon Meningkat

Baca juga: Pemkot Optimalkan P2TP2A jadi Rumah Aman Korban Kekerasan Perempuan dan Anak di Ambon

Menurutnya untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, paling banyak didominasi oleh kasus kekerasan dalam rumah tangga dan pemerkosaan.

“Jumlah kasus tersebut untuk kekerasan terhadap perempuan didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga, kemudian pemerkosaan, penganiayaan, hingga pencemaran nama baik,” kata Meggy, Kamis (15/9/2022) di Ambon.

Adapun untuk kasus kekerasan terhadap anak, pada tahun 2017 sebanyak 21 kasus, kemudian naik di tahun 2018 menjadi 28 kasus dan pada tahun 2020 menjadi 60 kasus.

Kemudian, pada tahun 2021 kasus kekerasan anak kembali naik menjadi 90 kasus. “Dan, untuk tahun 2022 di periode yang sama itu sudah ada 38 kasus yang ditangani,” katanya.

Dari data kasus kekerasan terhadap anak itu, paling banyak didominasi oleh kekerasan seksual.

“Dari data tersebut kekerasan seksual persetubuhan anak menempati urutan pertama, kemudian percabulan, kekerasan, kasus ITE, sampai bully atau perudungan,”jelasnya.

Dijelaskan, faktor penyebab meningkatnya kasus tersebut perlu kajian khusus, namun kebanyakan ditengarai faktor ekonomi.

“Saat Pandemi Covid-19 banyak orang tua kehilangan mata pencaharian karena PHK, anak-anak harus bersekolah dari rumah dan orang tua menggambil tatanggungjawab pendidikan semua ini berpengaruh terhadap peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tandasnya. (*) 

 

Sumber: Tribun Ambon
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved