Breaking News:

Ambon Hari Ini

Pemkot Optimalkan P2TP2A jadi Rumah Aman Korban Kekerasan Perempuan dan Anak di Ambon

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Masyarakat dan Desa (DP3AMD) Kota Ambon mengoptimalkan keberadaan Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pembe

Penulis: Mesya Marasabessy | Editor: Adjeng Hatalea
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Masyarakat dan Desa (DP3AMD) Kota Ambon mengoptimalkan keberadaan Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) sebagai rumah aman bagi penanganan korban kekerasan perempuan dan anak di Ambon. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Mesya Marasabessy

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Masyarakat dan Desa (DP3AMD) Kota Ambon mengoptimalkan keberadaan Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) sebagai rumah aman bagi penanganan korban kekerasan perempuan dan anak di Ambon.

“Dalam keterbatasan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon yang belum memiliki rumah aman yang sesuai dengan standar, maka kita optimalkan kantor P2TP2A sebagai rumah aman korban kekerasan perempuan dan anak di Ambon,” kata Kepala DP3AMD, Meggy Lekatompessy, Kamis (15/9/2022) di Ambon.

Dijelaskan, saat ini ada tujuh anak korban penelantaran dan kekerasan seksual yang tampung di P2TP2A.

“Untuk kasus penelantaran anak, ada lima orang anak asal salah satu negeri di kabupaten Maluku Tengah, dan koordinasi dengan berbagai pihak terkait telah berhasil dikembalikan ke orang tua, sementara dua anak korban kekerasan seksual masih ditampung,” jelasnya.

Dikatakan, pihaknya tidak hanya menampung korban, tetapi juga melakukan pendampingan psikologis, juga dengan koordinasi lintas OPD sebagai suatu kesatuan.

“Pendampingan psikologis terhadap korban termasuk untuk visum maupun kebutuhan lainnya yang memerlukan koordinasi lintas OPD,” ungkapnya.

Lanjut dia, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, seluruh proses pendampingan korban harus dilakukan, bahkan untuk upaya penjemputan berdasarkan laporan yang masuk seringkali tidak mengenal waktu.

Baca juga: Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Ambon Meningkat

“Mau tidak mau, dengan segala keterbatasan, pendamping harus melakukan yang terbaik bagi korban,” pungkasnya.

Diketahui, sejak tahun 2017 kasus kekerasan terhadap perempuan berjumlah 13 kasus, 2018 34 kasus, 2019 40 kasus, 2020 55 Kasus, 2021 59 kasus, dan hingga Mei 2022 21 Kasus.

Sementara untuk jumlah kasus kekerasan terhadap anak, pada 2017 berjumlah 21 kasus, 2018 28 kasus, 2019 85 kasus, 2020 60 kasus, 2021 90 kasus, dan 2022 38 kasus.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved