Breaking News:

Global

Abaikan Seruan Sanksi Uni Eropa, Serbia Mantap Amankan Kesepakatan Gas dengan Rusia

Saat perang di Ukraina berkecamuk, Serbia mengumumkan telah mendapatkan kesepakatan gas alam yang sangat menguntungkan dengan Rusia.

Editor: Adjeng Hatalea
(AP PHOTO/MARKO DROBNJAKOVIC)
Demonstran memegang bendera besar Rusia dalam aksi demonstrasi untuk mendukung Rusia di Belgrade, Serbia, Jumat (4/3/2022). Pemerintah Serbia juga menolak seruan dari Uni Eropa untuk ikut menjatuhkan sanksi kepada Rusia, dengan alasan kepentingan nasional. (AP PHOTO/MARKO DROBNJAKOVIC) 

BELGRADE, TRIBUNAMBON.COM – Saat perang di Ukraina berkecamuk, Serbia mengumumkan telah mendapatkan kesepakatan gas alam yang sangat menguntungkan dengan Rusia.

Kesepakatan gas alam dengan Moskwa tersebut diumumkan Presiden Serbia Aleksandar Vucic setelah bertelepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Minggu (29/5/2022). Vucic telah menolak untuk mengutuk invasi Rusia ke Ukraina.

Selain itu, Serbia juga belum bergabung dengan Barat dalam menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Moskwa.

Vucic, mantan ultranasionalis pro-Rusia, mengeklaim bahwa dia ingin membawa Serbia ke Uni Eropa tetapi telah menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk memperkuat hubungan dengan Rusia, sekutu lamanya. Serbia hampir seluruhnya bergantung pada gas Rusia, sebagaimana dilansir Al Arabiya.

“Apa yang bisa saya katakan kepada Anda adalah bahwa kami telah menyepakati elemen utama yang sangat menguntungkan Serbia,” kata Vucic kepada wartawan.

“Kami sepakat untuk menandatangani kontrak tiga tahun, yang merupakan elemen pertama dari kontrak yang sangat cocok dengan pihak Serbia,” sambung Vucic.

Vucic mengatakan kepada Putin bahwa dia berharap perdamaian akan dibangun sesegera mungkin.

Kesepakatan itu kemungkinan akan ditandatangani saat Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berkunjung ke Belgrade awal Juni ini, kunjungan langka pejabat tinggi Rusia ke negara Eropa sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai 24 Februari.

Tidak jelas bagaimana Serbia akan menerima gas Rusia jika Uni Eropa memutuskan untuk menutup pasokan Rusia yang melewati negara-negara anggotanya.

Sejauh ini, Rusia telah memotong ekspor gasnya ke tiga negara anggota Uni Eropa yakni Finlandia, Polandia, dan Bulgaria.

Kadis di Maluku Ini Minta Generasi Millenial Produktif di Era Pemerintahan Jokowi, Kenapa?

Sedangkan secara keseluruhan, Uni Eropa buru-buru mengurangi ketergantungannya pada energi Rusia sejak invasi dimulai.

Terlepas dari laporan tentang kekejaman di Ukraina karena invasi, Vucic dan para pemimpin Serbia lainnya enggan mengindahkan tekanan Barat untuk menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.

Para pejabat Serbia mengatakan, negara di daerah Balkan tersebut harus melawan tekanan seperti itu, bahkan jika itu berarti mengabaikan tujuan bergabung dengan Uni Eropa.

Di bawah 10 tahun pemerintahan Vucic dan propaganda pro-Kremlin tanpa henti, Serbia secara bertahap lebih condong ke Rusia.

Jajak pendapat menunjukkan, mayoritas di negara itu lebih suka bergabung dengan semacam serikat pekerja dengan Moskwa daripada Uni Eropa.

“Kesepakatan yang dicapai oleh Presiden Vucic dengan Presiden Putin adalah bukti betapa keputusan Serbia untuk tidak berpartisipasi dalam histeria anti-Rusia dihormati,” kata Menteri Dalam Negeri Serbia Aleksandar Vulin.

“Pemimpin bebas, rakyat bebas, membuat keputusan yang baik untuk Serbia dan tidak menerima perintah (dari Barat),” lanjut Vulin.

(Kompas.com / Danur Lambang Pristiandaru)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved