Minggu, 12 April 2026

Insiden Pesawat Jeju Air Jatuh, 179 Orang Tewas, CEO Minta Maaf

CEO Jeju Air, Kim Leebae, meminta maaf mendalam atas insiden kecelakaan Pesawat Jeju Air pada Minggu, 29 Desember 2024, di Bandara Muan.

|
Newsway Korea/Tribunnews
CEO Jeju Air, Kim Lee-bae, berbicara dalam jumpa pers di Hotel Mayfield di Gangseo-gu, Seoul, beberapa jam setelah jatuhnya pesawat Jeju Air dengan nomor penerbangan 7C2216 pada Minggu (29/12/2024). Setidaknya 179 dari 181 orang di dalam pesawat dinyatakan meninggal dunia. Ia meminta maaf kepada keluarga para korban. 

TRIBUNAMBON.COM – Pesawat Jeju Air mengalami kecelakaan pada Minggu, 29 Desember 2024, di Bandara Muan.

Pesawat tersebut gagal mendarat dengan baik, keluar dari landasan pacu, dan meledak menjadi bola api setelah menghantam tembok bandara.

Kecelakaan tersebut menewaskan sedikitnya 179 orang dari total 181 orang yang berada di dalam pesawat bernomor penerbangan 7C2216. 

Atas insiden tersebut, CEO Jeju Air, Kim Leebae, mengungkapkan permohonan maaf mendalam.

"Saya menundukkan kepala untuk meminta maaf kepada semua orang yang peduli dengan Jeju Air... Saat ini sulit untuk menentukan penyebab kecelakaan tersebut," kata CEO Jeju Air, Kim Lee-bae, dalam jumpa pers di Hotel Mayfield di Gangseo-gu, Seoul, pada hari ini.

Baca juga: Tinjau Pengecoran Lantai Jembatan Dian-Tettoat, Nurjanah Yunus Harap Dapat Diakomodir Hotmix di 2025

Baca juga: Bulog Prediksi Harga Beras Bakal Naik di Awal Tahun 2025

Ketika ditanya tentang kemungkinan tabrakan burung sebagai penyebab kecelakaan, Kim menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan hal tersebut dan masih menunggu hasil investigasi resmi dari instansi pemerintah terkait.

Jeju Air berkomitmen untuk melakukan segala upaya dalam menyelesaikan masalah ini dan mendukung keluarga para penumpang.

Sementara itu, Boeing juga mengeluarkan pernyataan melalui email, menyatakan bahwa mereka sedang berkoordinasi dengan Jeju Air terkait penerbangan 2216 dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang kehilangan orang terkasih.

Kecelakaan ini menjadi yang terburuk yang dialami oleh maskapai penerbangan Korea Selatan sejak kecelakaan Korean Air di Guam pada tahun 1997, yang menewaskan lebih dari 200 orang.

Penyelidikan saat ini sedang dilaksanakan untuk menentukan penyebab pasti dari kecelakaan tersebut, termasuk kemungkinan adanya tabrakan burung yang menyebabkan roda pendaratan tidak berfungsi, serta kondisi cuaca saat kejadian.

Seorang penumpang mengirimkan pesan singkat kepada kerabatnya, menyebutkan bahwa terdapat burung yang tersangkut di sayap pesawat, yang menjadi salah satu fokus dalam penyelidikan ini.

Menurut laporan badan pemadam kebakaran nasional, dua orang, yaitu seorang penumpang dan seorang awak pesawat, berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved