Breaking News:

Rudapaksa di Bursel

Tim Trauma Healing Datangi Korban Rudapaksa, Aktivis Perempuan: Sejak Kapan Polisi Jadi Terapist?

Dirinya menyebutkan, tugas dan fungsi utama pihak kepolisian adalah menegakan hukum, cari dan tangkap buronan, bukan bikin trauma healing.

Penulis: Andi Papalia | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com / Andi
MALUKU: Aktivis Perempuan Maluku, Lusi Peilow. 

Laporan Kontributor TribunAmbon.com, Andi Papalia

NAMLEA, TRIBUNAMBON.COM - Aktivis Gerak Bersama Perempuan Maluku, Lusi Peilouw mempertanyakan kapasitas tim trauma healing yang diturunkan Polres Pulau Buru ke kediaman korban rudapaksa di Namrole, Buru Selatan, Kamis (10/2/2022).

Aktivis yang juga merupakan Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Maluku ini mengatakan, korban rudapaksa pasca kejadian harusnya ditangani ahlinya.

Jika tidak, lanjut dia, hanya akan memperparah luka bagi korban.

"Itu butuh skill. Memang Polres Pulau Buru punya terapist? Baik Polwan ataupun pegawai sipil, psikolog saja belum tentu ada. Di Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease saja tidak ada Psikolog. Korban dirujuk untuk soal psikologi dan psikiatri ke Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD), bagaimana Polres Buru lakukan itu?," tanya Peilouw saat dikonfirmasi TribunAmbon.com, Kamis (10/2/2020) malam.

Terlebih, kata Lusi, penanganan korban rudapaksa yang dilakukan seorang ayah terhadap putri kandungnya ini harus dilakukan dengan kehati-hatian.

Baca juga: Polisi Kirim Tim Trauma Healing Dampingi Korban Rudapaksa Ayah Kandung di Namrole

"Bertindak harus hati-hati, karena bisa mengorek trauma atau luka hati bathinnya, kondisi psikologi, mental dan kejiwaan korban akan lebih parah, hingga bisa menimbulkan dampak yang berbahaya. Apalagi ini korban kekerasan seksual, terus kakak yang menyaksilan adik kecilnya menderita hingga meninggal, penanganannya tidak gampang itu," ujar Peilow.

Menurutnya, tidak ada trauma healing dalam Standard Operating Procedures (SOP) penanganan kasus yang diamanatkan oleh peraturan Kapolri.

Bahkan, tidak ada trauma healing atau pendampingan korban oleh Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polda dan Polresta P. Ambon & PP. Lease.

"Pemulihan korban itu biasanya diserahkan ke pendamping korban," ucapnya.

Dirinya menyebutkan, tugas dan fungsi utama pihak kepolisian adalah menegakan hukum, cari dan tangkap buronan, bukan bikin trauma healing.

"Jangan sengaja mengalihkan perhatian publik dari tuntutan menangkap pelaku yg buron, dengan trauma healing," ujar Peilow.(*) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved