Ambon Terkini
Kisah Bapak La Dini, Tetap Pikul Bakul Meski Sudah Masuk Usia Senja
Memiliki seorang istri dan empat anak tentu menjadi semangat tersendiri untuk La Dini, pria berusia 69 tahun yang bertahan hidup mengais rejeki di neg
Penulis: Mesya Marasabessy | Editor: Adjeng Hatalea
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Mesya Marasabessy
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Untuk bertahan hidup membutuhkan perjuangan dan kerja keras yang begitu tinggi.
Hal ini pula terkadang dilakukan tanpa mengenal usia.
Apalagi, berstatus sebagai kepala dalam satu keluarga, yang berarti tulang punggung keluarga.
Memiliki seorang istri dan empat anak tentu menjadi semangat tersendiri untuk La Dini, pria berusia 69 tahun yang bertahan hidup mengais rejeki di negeri orang.
Terlebih, istri dan anak-anaknya semua tinggal di kampung dan hanya menanti sedikit rejeki yang dikirim La Dani untuk mereka.
“Saya merantau disini, empat anak saya, dua perempuan, dua laki-laki semuanya tinggal disana. Kalau ada rejeki saya kumpul untuk kirim ke mereka,” kata La Dani.

Pria kelahiran Baubau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara itu sehari-hari bekerja sebagai pemikul bakul di kawasan Pasar Mardika Ambon.
La Dini, merantau dari kampung halamannya ke kota berjuluk Manise ini sejak tahun 1990.
Sejak itu lah, ia memikul berkilo-kilo beratnya barang milik orang yang berbelanja di pasar.
Ke mana pemilik barangnya berjalan, La Dini pun mengikuti dari belakang.
Jika barang bawaan atau belanjaan Anda dianggap terlalu banyak dan berat, bisa menggunakan jasa pikul bakul seperti La Dini ini.
Dalam kurun waktu 31 tahun terakhir, setiap harinya La Dini menghabiskan 15 jam lamanya ia memikul bakul di pasar.
Yakni, pada pagi hari mulai pukul 05.30 WIT, La Dini dari indekosnya di kawasan Batu Merah sudah mulai berjalan menuju pasar.
Sampai dengan malam, pukul 20.00 WIT, ia baru bisa kembali ke kediamannya untuk rehat sejenak.
Saat ditemui TribunAmbon.com di kawasan depan Hotel Wijaya II, Jalan Mardika III, La Dini tengah berdiri sembari menikmati sebatang rokok ditemani dua buah bakul bawaannya.
Pandangannya tertuju kepada orang-orang di pasar yang sementara berbelanja.
Berharap, ada orang yang mau menggunakan jasa La Dini untuk memikul barang belanjaan mereka.
Disela-sela itu, La Dini mengungkapkan keuntungan yang ia raup dari jasanya itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.
Sekali pikul dibayar Rp 15 ribu hingga Rp 30 ribu, tergantung banyak dan tidaknya muatan barang.
“Kadang kalau mereka mengerti, mereka bisa bayar Rp 50 ribu,” ungkap La Dani.
Jika dikalkulasikan, penghasilan per hari La Dini rata-rata Rp 80 ribu sampai 100 ribu.
Paling tinggi Rp 200 ribu, tapi didapat hanya sesekali.
Tatkala, La Dani juga sempat merasa sakit-sakitan setelah berpuluh tahun menjadi pemikul bakul.
“Kalau badan-badan sakit itu biasa dan mungkin karena sudah umuran. Saya juga pernah sakit parah tapi mau bagaimana lagi? Minum obat dan berharap secepatnya sembuh supaya bisa bekerja lagi,” ucapnya.