Breaking News:

Ambon Terkini

Tercatat 111 Kasus Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak di Ambon Periode Januari-Oktober 2021

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Masyarakat Desa (P3AMD) Kota Ambon mencatat, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepenjang

Penulis: Ode Alfin Risanto | Editor: Adjeng Hatalea
TribunAmbon.com/ Tanita Pattiasina
Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Masyarakat dan Desa (P3AMD), Meggy Lekatompessy, Senin (8/3/2021). 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Alfin Risanto

AMBON,TRIBUNAMBON.COM - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Masyarakat Desa (P3AMD) Kota Ambon mencatat, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak sepenjang Januari hingga Oktober 2021 mencapai 111 kasus di daerah itu.

"Dari total 111 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak tersebut, terdapat kasus perempuan 38 dan Anak 73 kasus," ucap Kepala Dinas P3AMD Kota Ambon, Meggy M Lekatompessy saat dihubungi TribunAmbon.com melalui WhatsAap, Jumat (26/11/2021).

Meggy menjelasakan, jumlah kasus terhadap anak di Kota Ambon dalam kurun waktu 2021 ini juga bermacam-macam atau beragam jenis.

Seperti persetubuhan terhadap anak di bawah umur 25 kasus, pencabulan 7 Kasus, penelantaran anak 3 kasus, kekerasan terhadap anak 18 kasus, dan kekerasan bersama sebanyak 4 kasus.

Eksploitasi anak 2 Kasus, perebutan hak asuh 6 Kasus, anak tidak mampu 5 kasus, tindak pidana perdagangan orang 1 kasus, pornografi 1 kasus, pengancaman serta perundungan atau bully 1 kasus.

"Untuk kasus anak yang terbanyak adalah persetubuhan dsn kekerasan terhadap anak ysng paling banyak," Tuturnya.

Adapun kasus tindak kekerasan terhadap kaum perempuan, lanjutnya, berupa Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) 28 kasus,  penghinaan 1 kasus, penelantaran 1 kasus, pemerkosaan 2 kasus, penganiayaan, pencabulan dewasa, 1 kasus, dan tindak perdagangan orang sebanak 1 kasus.

Selain itu untuk kasus pencemaran nama baik, 1 Kasus, Penipuan, 1 Kasus, pengancaman, 2 Kasus totalnya yaitu 38 kasus.

“Dalam penanganan kasus-kasus ini ada yang dapat diselesaikan dengan cara mediasi, adapula yang diproses hukum, tuturnya

Meggy menambahkan, apabila terdapat kasus fisik dan psikis yang butuh pemeriksaan kesehatan, maka pihaknya akan membawa korban ke dokter.

“Jika ada jenis kasus seperti ini hingga menyebabkan gangguan psikologis terhadap korban, tentunya kami bersedia untuk memfasilitasi mereka,” tandasnya.(*)

Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved