Ambon Hari Ini
Aji Ambon Diskusi Film A Thousand Cuts: Kisah Jurnalis Dibui karena Kritik Presiden
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Ambon menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film A Thousand Cuts.
Penulis: Ode Alfin Risanto | Editor: Salama Picalouhata
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Alfin Risanto
AMBON,TRIBUNAMBON.COM - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Ambon menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film A Thousand Cuts.
Film ini Bertajuk "Darurat Demokrasi dan Kebebasan Pers.
Nonton bareng dan diskusi film "A Thousand Cuts" digelar untuk mendorong kebebasan pers dan pengawasan terhadap jalannya demokrasi.
Selain dihadiri oleh 40 jurnalis, mahasiswa dari berbagi perguruan tinggi, aktivis dan organisasi kepemudaan, kegiatan ini menghadirkan pegiat demokrasi dan akademisi dari Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Rusdi Abidin, dan jurnalis senior yang juga anggota AJI Ambon, M Yani Kubangun sebagai pembicara.
Ketua AJI Ambon, Tajudin Buano mengatakan kegiatan nobar dan diskusi Film A Thousand Cuts ini bagian dari bentuk dukungan terhadap Maria Ressa.
Dia berharap film ini dapat memacu semangat para jurnalis dan kalangan aktivis dalam mengawal demokrasi terutama dalam menyuarakan kebebasan pers dan melawan tindakan pembukaman yang dilakukan oleh penguasa.
"Jurnalis jangan sampai dibungkam, apalagi ditangkap, sebab jika itu terjadi maka kontrol publik terhadap kekuasaan akan lemah dan berdampak buruk terhadap nilai demokrasi," ujar Tajudin dalam sambutannya, Sabtu (6/11/2021).
Sementara itu penggiat demokrasi, Rusdin Abidin memgungkapkan dari film ini adanya persamaan antara Filipina dan Indonesia dalam hal politik demokrasi dimana ada yang disebut dengan politik aliran, dimana di indonesia mayoritas muslim dan Fhilpina Katolik terbesar.
"Nah dari dua versi ini kalau pendekatan politik aliran satu didukung dengan institusi politik islam terbesar di Indonesia satu juga didukung dengan institusi katolik terbesar di Fhilpina," jelasnya.
Menurutnya ciri dari pemerintahan seperti ini dalam pemerintahan demokrasi disebut dengan pemerintahan modal atau pemerintahan pasar dimana sebagian kelompok mayoritas Fhilpina adalah kelompok feodal setelah kelompok sosialis dan komunis yang menguasai birokrasi dan kemiliteran.
Menyentil penangkapan Maria Rosa di Fhilpina, Rusdin menyebut ada keterkaitan liquiditas kasus yang dikenakannya yaitu kasus perang narkoba dan kemiskinan. Dimana ia dijerat dengan UU ITE karena ada group buzer yang di Fhilpina dikenal dengan istilah strol atau kelompok pendukung kekuasaan yang bekerja memanipulasi isu isu untuk melawan kelompok oposisi terutama jurnalis.
"Jadi saya mau bilang kesamaan antara Filipina dengan Indonesia dalam gambaran film tersebut yaitu oligarki. Ketika seorang ayah berkuasa, anaknya atau keluarganya juga akan berkuasa. Seperti anak Duterte yang juga menjadi wali kota," terangnya.
Sementara itu, wartawan senior, A.Yani Kubangun juga menyoroti sosok Maria Resa sebagai sosok perempuan heroik yang berhadapan dengan narasumber seorang penguasa.
Menurutnya, dalam kisah a thousand cuts, seorang Maria Resa dalam melakukan investigasi kasus cukup disiplin yang diawali dengan melakukan observasi sebagai salah satu langkah investigasi. Dengan cukup memahami treck record seorang Duterte.
"Maka pelajaran yang harus dipetik dari aktifitas jurnalis seperti ditunjukan Maria Resa adalah seorang jurnalis harus memiliki cukup informasi yang didukung dengan data yang tertanggungjawab saat berhadapan dengan narasumber, termasuk kemampuan membuat freming sendiri," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/nobar-aji-ambon.jpg)