Breaking News:

Ambon Hari Ini

Sidang KDRT Kadis PPR Kepulauan Aru Heboh, Umar Sebut Telah Kerja Sama dengan Hakim

Pasalnya, korban yang juga isteri terdakwa, HY meminta izin majelis hakim untuk menyerahkan bukti baru hasil percakapan anaknya dan terdakwa.

Penulis: Tanita Pattiasina | Editor: Fandi Wattimena
Tanita Pattasina
Sidang Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menjerat Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman Rakyat (PUPR) Kabupaten Kepulauan Aru, Umar Ruly Londjo, kembali berlangsung di Pengadilan Negeri Ambon, Selasa (31/8/2021) siang. Dalam persidangan yang dipimpin ketua Majelis Hakim, Orpa Marthina, menghadirkan saksi korban yang juga isteri terdakwa, HY. 

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Tanita Pattiasina

AMBON, TRIBUNAMBON.COM – Sidang kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menjerat Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (PPR) Kabupaten Kepulauan Aru, Umar Rully Londjo sempat heboh sebelum majelis hakim mengakhiri persidangan di Pengadilan Negeri Ambon, Selasa (28/9/2021) siang.

Pasalnya, korban yang juga isteri terdakwa, HY meminta izin majelis hakim untuk menyerahkan bukti baru hasil percakapan anaknya dan terdakwa.

Dalam bukti berupa flashdisk dan satu amplop coklat itu, terdakwa disebut mengatakan kepada sang anak telah berkonspirasi dengan Majelis Hakim.

“Ibu Majelis Hakim, saya minta izin. ini ada bukti-bukti katanya terdakwa telah berkonspirasi dengan majelis hakim. Dia juga menekan anak-anak saya. bukti rekaman ada di flash dan bukti screenshot chat, bila Yang Mulia izinkan ingin saya berikan,” kata HY saat persidangan kepada Ketua Majelis Hakim Orpa Marthina didampingi Hakim pendamping, Julianti Wattimury dan Josca Jane Ririhena.

Pantauan TribunAmbon.com di ruang sidang, Majelis Hakim sempat kaget mendengar pernyataan korban dan kemudian memberikan izin kepada korban.

Majelis Hakim juga menyatakan, korban dapat melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian.

“Ibu, boleh melapor ya kepada polisi,” tegas Ketua Majelis Hakim.

Baca juga: Wakil Rakyat di Ambon Minta Pemerintah Sediakan HP Gratis Bagi Warga

Baca juga: Pelaku KDRT, Umar Londjo Akui Sering Kirim Pesan Makian ke Isteri

Setelah pemberian bukti, Hakim kemudian menunda sidang hingga Selasa 5 Oktober dengan agenda tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum.

Ditempat terpisah, saat diwawancarai, HY mengatakan anaknya sering merekam pembicaraan dengan terdakwa.

Sebelum penundaan sidang Minggu lalu, terdakwa menelpon anaknya untuk meminta majelis hakim untuk membatalkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

Bahkan, lanjut HY, dalam percakapan itu juga terdakwa mengatakan telah menghadap Majelis Hakim dan diarahkan untuk melakukan hal itu.

“Didalam percakapan itu, dia bilang dia sudah menghadap majelis hakim dan ini majelis hakim yang arahkan seperti yang tadi dia bilang buat anak, cara dia sudah itu majelis hakim yang arahkan. terlepas benar atau tidak, tapi saya rasa harus Majelis Hakim tahu,” tegasnya.

Selain itu, HY mengatakan dalam bukti yang diserahkan juga terdapat bukti tangkapan layar intimidasi kepada anak-anaknya.

“Ada juga dia bikin dalam bentuk wa dalam bentuk tekanan intimidasi terhadap anak-anak saya karna dia kan bilang kan tidak pernah mengintimidasi anak-anak tapi saya punya screenshot bentuk intimidasi dia, paling banyak itu dia tidak mau kasih kuliah. bahwa nanti di persidangan dia punya uang tapi dia tidak akan pakai untuk membiayai anak-anak saya tapi dia akan pakai membantai saya di pengadilan,” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved