Breaking News:

RUU PKS

DPR Diminta Libatkan Publik dalam Pembahasan RUU PKS

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengingatkan Badan Legislasi (Baleg) DPR agar membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya dalam pembahasan RUU

Editor: Adjeng Hatalea
(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Sejumlah warga yang tergabung dalam Jakarta Feminis melakukan aksi saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (1/9/2019). Dalam aksinya mereka meminta DPR segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) karena KUHP yang selama ini dipakai dalam menyelesaikan kasus-kasus kekerasan seksual dinilai belum dapat melindungi para korban. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.(ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A) 

JAKARTA, TRIBUNAMBON.COM - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta mengingatkan Badan Legislasi (Baleg) DPR agar membuka ruang partisipasi publik seluas-luasnya dalam pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Pengacara publik LBH Jakarta Citra Referandum meminta Baleg DPR mendengarkan, mempertimbangkan dan mengimplementasikan masukan dan saran dari publik.

"Kami meminta Baleg DPR segera membuka seluas-luasnya ruang partisipasi publik dengan melibatkan secara aktif korban, pendamping, kelompok masyarakat dan ahli yang konsisten mendorong pencegahan dan penghapusan kekerasan seksual untuk merumuskan kebijakan pasal demi pasal terhadap RUU PKS," kata Citra dalam keterangan pers, Jumat (3/9/2021).

LBH Jakarta sendiri memiliki 16 catatan terhadap draf RUU PKS yang kini mulai dibahas kembali oleh DPR.

Rustam Latupono Minta Kenaikan Tarif Angkot Tak Lebih dari 30 Persen

Penantian 17 Tahun, Akhirnya Kanim Tual Miliki Tanah Sendiri

Catatan itu, antara lain, dihapusnya tindak pidana perbudakan seksual dan tindak pidana pemaksaan perkawinan. Kemudian, dihilangkannya ketentuan mengenai pemaksaan aborsi.

Selain itu, tidak ada tindak pidana kekerasan berbasis gender online.

Citra pun berharap catatan LBH Jakarta terhadap RUU PKS dapat diakomodasi oleh Baleg DPR. "Meminta Baleg DPR memasukan seluruh catatan LBH Jakarta agar dirumuskan untuk diatur menjadi pasal demi pasal ke dalam draf RUU PKS," ujarnya.

Dikutip dari Kompas.id, Baleg DPR akhirnya memulai dari awal proses RUU PKS dengan draf baru yang disusun oleh tim tenaga ahli pada 30 Agustus 2021.

Dibandingkan dengan draf sebelumnya, pada draf rancangan undang-undang yang baru, ada beberapa perubahan, baik usulan judul maupun jenis-jenis tindak pidana kekerasan seksual, yang akan diatur.

Misalnya, pada judul, dalam draf Rancangan Undang-Undang (RUU) yang baru, judul yang diusulkan "RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual" atau tidak menggunakan kata "penghapusan" sebagaimana draf RUU sebelumnya yang berjudul "Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual".

Selain itu, pada draf awal RUU yang dibahas Baleg, jenis-jenis tindak pidana kekerasan seksual yang diatur hanya lima, yakni Pelecehan Seksual (Pasal 2), Pemaksaan Memakai Alat Kontrasepsi (Pasal 3), Pemaksaan Hubungan Seksual (Pasal 4), Eksploitasi Seksual (Pasal 5), dan tindak pidana kekerasan seksual yang disertai dengan perbuatan pidana lain (Pasal 6).

(Kompas.com / Tsarina Maharani / Krisiandi)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved