Selasa, 14 April 2026

Global

WHO: Varian Delta Dominasi Infeksi Covid-19 Global

Menurut Kepala Ilmuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Varian Delta dari Covid-19 menjadi varian penyakit yang dominan secara global.

Editor: Adjeng Hatalea
(Shutterstock/angellodeco)
Ilustrasi varian virus corona Delta. Varian ini pertama kali diidentifikasi di India, sebelumnya dinamai B.1.617.2. Virus corona varian Delta. 

JENEWA, TRIBUNAMBON.COM - Menurut Kepala Ilmuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Varian Delta dari Covid-19 menjadi varian penyakit yang dominan secara global.

Varian ini pertama kali diidentifikasi di India.

Inggris telah melaporkan peningkatan tajam dalam infeksi dengan varian Delta.

Sementara pejabat kesehatan masyarakat Jerman memperkirakan varian Covid-19 itu akan dengan cepat menjadi varian dominan di sana, meskipun tingkat vaksinasi meningkat.

Sementara itu, Rusia juga menyalahkan lonjakan kasus Covid-19 pada keengganan untuk melakukan vaksinasi dan "nihilisme", setelah rekor infeksi baru di Moskwa. Kremlin mencatat sebagian besar infeksi Covid-19 baru didominasi oleh varian Delta.

Kondisi tersebut semakin memperbesar ketakutan akan gelombang ketiga. "Varian Delta sedang dalam perjalanan untuk menjadi varian dominan secara global karena peningkatan transmisibilitasnya," kata Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan dalam konferensi pers update covid-19 global pada Jumat (18/6/2021).

Baca juga: Lonjakan Covid-19 Jakarta: Wisma Atlet 78 Persen Penuh, Kematian Capai 80 Kasus per Hari

Swaminathan pada kesempatan yang sama juga menyuarakan kekecewaan atas kegagalan kandidat vaksin CureVac dalam uji coba untuk memenuhi standar kemanjuran WHO.

Pasalnya, dengan meningkatnya varian yang sangat mudah menular di seluruh dunia, kebutuhan akan suntikan baru yang efektif menjadi krusial.

Vaksin CureVac dari perusahaan Jerman minggu ini melaporkan vaksinnya terbukti hanya 47 persen efektif dalam mencegah penyakit, jauh dari patokan WHO yaitu 50 persen. Perusahaan mengatakan telah mendokumentasikan setidaknya 13 varian yang beredar dalam populasi penelitiannya.

Mengingat bahwa vaksin mRNA serupa dari Pfizer dan BioNTech dan Moderna mencatat tingkat kemanjuran yang mencapai 90 persen, Swaminathan mengatakan dunia mengharapkan lebih dari kandidat CureVac.

“Hanya karena ini adalah vaksin mRNA yang lain, kami tidak dapat menganggap semua vaksin mRNA itu sama, karena masing-masing memiliki teknologi yang sedikit berbeda,” kata Swaminathan, melansir Reuters. Menurutnya, kegagalan yang mengejutkan ini menekankan pentingnya uji klinis yang kuat, untuk menguji produk baru.

Baca juga: Pemerintah Kota Ambon akan Perbaiki Kerusakan di Pasar Apung

Pejabat WHO mengatakan Afrika tetap menjadi area yang menjadi perhatian, meskipun hanya menyumbang sekitar 5 persen dari infeksi global baru dan 2 persen dari kematian. Kasus baru di Namibia, Sierra Leone, Liberia dan Rwanda telah berlipat ganda dalam minggu lalu, kata kepala program kedaruratan WHO Mike Ryan. Sementara akses vaksin tetap sangat kecil.

"Ini perkembangan yang sangat, sangat memprihatinkan," kata Ryan.

"Realitas brutal adalah bahwa di era (berkembangnya) berbagai varian Covid-19, dengan peningkatan penularan, kami telah meninggalkan sebagian besar populasi, populasi rentan Afrika, tidak terlindungi oleh vaksin."

(Kompas.com / Bernadette Aderi Puspaningrum)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved