Breaking News:

Kuti Kata Maluku

Kuti Kata; Jang Pawela

"Mar jang pawela" (=jangan tak acuh, lengah, lamban) "la jang lebe skang masoso" (=jangan berlebihan bisa saja itu kode-kode tentang suatu hal

Sumber; Pdt. Elifas Tomix Maspaitella
Kerbau Moa 

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Terkadang karena kesenangan tersendiri kita "tatawa mangaing" (=tertawa sampai lupa diri) atau "tatawa sampe poro-poro saki" (=tertawa sampai terasa sakit di perut). Adakalanya pula "tatawa helahai" (=tertawa sampai sulit berhenti), "daong bagara lai mar tatawa" (=bahkan daun bergoyang pun bisa ditertawai). Ini ungkapan-ungkapan tentang "hati gili-gili" (=rasa geli hati yang menimbulkan tawa).

"Mar jang pawela" (=jangan tak acuh, lengah, lamban) "la jang lebe skang masoso" (=jangan berlebihan bisa saja itu kode-kode tentang suatu hal yang tidak diharapkan).

Ungkapan "jang pawela" menjadi isyarat agar kita tidak mengacuhkan keadaan sekitar, seakan hal-hal tertentu tidak dapat menimpa kita. Ada rasa "ah tar mungkin o" (=semacam rasa tidak mungkin itu terjadi), namun bukannya kita waspada "mar pawela" (=jadinya kita lengah). Begitu hal tersebut menimpa kita, "mau manyasal lai su talat" (=mau menyesal tetapi sudah terlambat).

Semasa kanak-kanak dan "makang bangko SD" (=duduk di sekolah dasar), kami sering "pawela padahal su mau tes" (=acuh tak acuh padahal sudah mau diadakan tes/ujian).

"Anggap enteng, aer-aer" (=anggap enteng, urusan gampang), dan begitu menghadapi soal tes, "mata galap", "la'ang", "babingong sakapala" (=tiga ungkapan ini tentang reaksi kebingungan).

"Jang pawela", juga suatu ungkapan pengingatan dalam bekerja. "Tagal pawela" bisa saja "karja nol" (=kerja tidak membuahkan hasil), "tagal bahela" (=kerja lambat karena tidak fokus).

Baca juga: Kuti Kata; Putus Tanjong Langgar Lautan

Baca juga: Kuti Kata; Jangan Mau Jadi Jongos

"Konci rekeng, pulang deng kaki tangang ampa" (=pulang tidak membawa apa-apa). Orang tipe ini yang "tar ada dame hati" (=hatinya tidak tenang) "la bamarah par tutu salah deng pamalas" (=sehingga bawaannya suka marah-marah untuk menutupi kesalahannya).

"Jang pawela" juga pengingatan kepada orang-orang muda supaya "arika" (=bergerak cepat, tangkas, lincah), "kaki tangang aringang" (=lincah, cekatan, trampil) untuk melakukan apapun "par hari eso" (=untuk masa depan).

"Jang pawela" juga pengingatan untuk taat pada nasehat atau norma-norma yang ada dalam "hidop hari-hari" (=kehidupan sesehari) atau "di negri" (=dalam negeri/Ohoi/kampung, dalam masyarakat).

Sebab yang penting itu "tau atorang" (=tahu dan taat pada aturan), jangan menganggap seakan-akan tidak ada aturan atau malah "biking diri lebe di atas torat" (=merasa lebih di atas aturan), karena sikap yang "suka langgar sipat torat" (=suka melanggar aturan) adalah sikap "orang bodok" (=orang bodoh).

"Jang pawela" merupakan pengingatan bahwa "katong su bagini nih" (=sudah mengalami perkembangan) jadi "Jang sampe turung" (=jangan kondisinya menurun). Sebaliknya "tambah hari musti tambah bagus" (=semakin hari harus semakin baik).

Ingatang! Jang pawela. Kalu siang sadiki kuli aer masing pica, jadi arika la katong balayar par pagi buta nih jua (Menuju Pulau Lakor, untuk kemudian ke Luang dan Sermata).

#Elifas Tomix Maspaitella

Editor: Fandi Wattimena
Sumber: Tribun Ambon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved