Maluku Terkini
Tari Cakalele Buka Tradisi Pukul Manyapu, Ini Filosofinya
Tarian ini diperagakan oleh 16 orang pemuda, para penari melengkapi diri dengan atribut perang, yakni parang, salawaku dan busur
Penulis: M Fahroni Slamet | Editor: Salama Picalouhata
Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Ridwan Tuasamu
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Dalam acara Palasa atau lebih dikenal masyarakat Negeri (Desa) Morela dengan sebutan Pukul Sapu Lidi juga menampilkan tarian khas Maluku yakni Tari Cakalele.
Tarian ini diperagakan oleh 16 orang pemuda, para penari melengkapi diri dengan atribut perang, yakni parang, salawaku dan busur.
Sementara gerakan tarian, seperti akan menyerang dan menghadang lawan.
Tarian Cakalele dalam tradisi Palasa melambangkan perjuangan dan kegigihan rakyat Maluku menghadapi penjajahan pada massanya.
Biasanya seremonial ini ditampilkan saat menjamu tamu agung dalam upacara-upacara adat tertentu.
Baca juga: Ratusan Orang Berpakaian Putih Antar Jenazah Praka Alif Angkotasan ke Peristirahatan Terakhir
Baca juga: Kasus MTQ Bursel Segera Diaudit, Jaksa Kebut Periksa Saksi
Pantauan TribunAmbon.com, warga yang datang dari berbagai penjuru ini sangat antusias menyaksikan tarian kebesaran Maluku tersebut.
"Baru pertama kali liat, tariannya sangat khas sekali," ujar Melinda, seorang pekerja swasta kepada TribunAmbon.com, Kamis (20/5/2021).
Perempuan yang datang dari pusat Kota Ambon ini tetap semangat menonton meskipun berdesakan dengan banyak orang.
Ia mengatakan, atribut serba merah yang digunakan para pemain sangat menggambarkan heroisme para pejuang kemerdekaan.
Sehingga sangat rugi jika tidak disaksikan hingga selesai.
Diketahui, acara adat Pukul Sapu Lidi yang dilaksanakan di Lapangan Tulukabessy, Negeri Morela Maluku Tengah ini biasa dilakukan di hari ke-7 Lebaran idul fitri.
Ribuan warga dari pelosok Maluku datang untuk menyaksikan acara ini setiap tahunnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ambon/foto/bank/originals/manyapu-morella1.jpg)